Tuesday, July 20, 2010

Thank God I Found You Part 17


Thank God I Found You Part 17

*** Episode: I Do

Previously on Thank God I Found You part 16 (Episode: Karma).

Susi menuai apa yang selama ini dia perbuat. Buruknya perlakuannya kepada Jason, Vita, juga Willem menuai badai karena dia berkenalan dengan Vic yang ternyata penjahat kelas kakap. Dari Casino di Singapura, Vic yang memenangkan perjudian di sana, membawa Susi ke Hongkong untuk foya-foya. Siapa nyana, di Hongkong itulah dia ditangkap CID Hongkong. Meninggalkan Susi yang terbengong-bengong. Sementara Vita sudah mulai mempersiapkan hatinya untuk menatap masa depan bersama Jason. Bagaimanakah kelanjutan cerita ini? Simak di episode berikut ini…

Episode: I Do

RS PIK, Jakarta

Willem terkulai lemas di ruang ICU. Untuk kedua kalinya, hanya dalam waktu kurang dari setahun, dia sudah kembali menempati UGD karena percobaan bunuh diri. Kali ini, kondisinya teramat parah. Dokter sudah angkat tangan. Menyerah. Orangtua Willem, papa dan mamanya tertunduk gelisah. Menangis. Siapa juga yang rela kehilangan anaknya? Setiap orangtua pasti memiliki cita-cita melihat anaknya tumbuh sehat, berkeluarga, bahagia… Biar mereka menutup mata dengan tenang melihat anaknya sehat seperti semula. Bukan sebaliknya. Memandangi diri Si Anak yang sakit, kecelakaan, terluka, atau bunuh diri seperti ini sebelum kemudian meninggal di depan mata mereka.

Hidup… Terkadang alurnya sulit ditebak. Kaya-raya, tampan, berpendidikan, bukanlah jaminan bahwa Willem sehat jiwanya. Terbukti, dirinya begitu labil. Goncangan demi goncangan seolah mematikan dirinya, bukan malah menguatkan dirinya untuk melangkah.

Dari detak jantung yang perlahan. Terlihat mendadak hilang. Lalu ‘screen’ di ruang ICU berbunyi ‘tutttttttt’. Panjang dan lama. Garis berganti datar. ‘Flat’. Dokter keluar ruangan dan mengabarkan bahwa Willem sudah pergi untuk selama-lamanya.

Buram. Hitam. Kelam.

Lembar kehidupan yang dialami oleh keluarga Willem saat itu jauh dari senyuman. Kelabu memayungi mereka.

Tinggal jerit tangis kecewa yang tersisa.

“ Oh, tidakkkk,” ujar Mama Willem lalu pingsan.

***

Aku dan Jason mulai mempersiapkan pernikahan kami. Karena ini sekali seumur hidup, pastinya kami inginkan yang terbaik. Tetapi, sekali lagi, kami tak hendak buang-buang uang secara percuma. Sayang, kan… Pesta sederhana hanya bagi keluarga kami.

Dengan demikian, kami sudah mengirit biaya gedung yang membumbung tinggi. Juga mengirit dekorasi yang terlalu ‘wah’ sampai puluhan bahkan ratusan juta rupiah. Karena biaya dekor di gereja ini, mendapat diskon cukup lumayan, karena pemiliknya-Bu Wiwit, adalah orang yang membantu dengan tulus. Terkadang bagi pasangan yang tak punya uang pun, Bu Wiwit tetap melayani dan menghias altar gereja. Kalau yang mau menyumbang lebih, beliau pun menerima buat menutup juga mereka yang berkekurangan.

Sisanya, dana akan kami pakai untuk bulan madu. Bulan madu ke Singapura, langsung sambung Ho Chi Minh City. Mengingat kembali saat-saat aku harus mengasingkan diri di tempat itu saat semua di hidupku berubah kelam dan sekarang kembali kulihat titik terang itu...

Tak terasa, waktu terus berpacu. Pernikahan kami tinggal satu bulan lagi. Kami sudah menyiapkan segalanya semampu kami. Dan detik-detik itu kian berjalan. Beranjak. Semakin mendekati keindahan relasi kami yang sudah teruji oleh waktu dan banyak persoalan.

Sekali waktu, terlintas juga dalam pikiranku. Susi dan seluruh dramanya selama ini. Sudah lama juga tidak ada kabar berita darinya. Belum lagi Willem. Entah sampai di mana kisah mereka. Aku tak tahu. Aku juga terpikir sahabatku, Santi, yang pergi meninggalkanku. Apa pun yang terjadi, kau tetap bagian penting dalam hidupku.

***

Kantor Polisi Hongkong.

Susi berdiri di depan Kantor Polisi tersebut, hatinya masih shock berat. Dia masih tak percaya akan informasi yang didengarnya beberapa menit yang lalu ketika pihak kepolisian meminta keterangan darinya. Vic, yang spontan, tampan, kaya, gaul, dan amat menyenangkan itu....Ternyata adalah pengedar narkotik kelas dunia. Dia punya akses ke seluruh penjuru dunia. Terakhir, dia memang tengah istirahat dari seluruh aksinya, karena dia menyadari bahwa interpol internasional sudah mulai memberikan perhatian ekstra pada dirinya. Bukan hanya bandar narkoba. Dia juga menggunakan uang hasil transaksi narkobanya untuk kegiatan-kegiatan yang tak terpuji: judi, prostitusi, dan menggoncangkan bursa saham karena dia money laundering juga. Lengkaplah sudah seluruh kejahatannya. Untungnya dia tidak membunuh Susi. Malahan seolah jatuh cinta padanya.

Susi dilepaskan pihak kepolisian, karena dia dipercaya tidak memiliki hubungan yang mendalam dengan Vic. Mereka juga menunjukkan foto-foto Susi dan Vic dari Singapura dan Hongkong. Sebelumnya, mereka tahu bahwa Susi tak pernah bertemu Vic di kota-kota lain sebelumnya.

Susi bebas. Yang dia tak percaya, bahwa begitu bodoh dirinya kali ini. Dia-yang selalu lihai menghadapi semua situasi-bisa juga terjatuh. Karena yang dia hadapi, seorang penjahat kelas kakap!

Susi menangis. Berlalu. Beranjak menuju bandara internasional di Hongkong itu. Siap-siap pulang Jakarta sajaaaa....Tiba-tiba dia kangen rumah! Hal yang jarang terjadi dalam hidupnya...

***

Gereja Theresia, Menteng. Sebulan kemudian.

Kami memilih gereja ini. Dan bukan gereja lainnya. Jason dibaptis di sini, jadi dia pun ingin ketika dia menikah, juga di gereja yang sama. Hari ini Sakramen pernikahan kami. Koor sudah ditata rapi. Masuknya kami ke gereja, diiringi suara merdu Si Solis dengan lagu ‘Thank God I Found You’ yang selalu menjadi ‘soundtrack’ kisah cintaku dengan Jason.

Kurasakan air mata bahagia menitik perlahan. Tidak terlalu deras alirannya, karena aku takut juga merusak ‘make up’-ku. Tetapi, upaya mempertahankan sikap tegar itu sia-sia, ketika aku sungkem ke orang tuaku diiringi lagu Bunda-Melly Goeslow, air mataku berubah menjadi hujan deras di kedua belah pipiku. Tangisan haru dan bahagia….Akhirnya, menjelang usia empat puluh, aku menikah dengan seseorang yang kucinta. Seolah mimpi saja. Buat seorang wanita dewasa sepertiku, terkadang hadirku jadi cemooh. Ya, aku sadar. Aku juga tak ingin menikah setua ini. Tetapi jika Sang Jodoh tak kunjung tiba, apa aku harus memaksakan diri???

Kurasakan keharuan meliputi hatiku. Apalagi ketika aku menerima Jason sebagai suamiku……Janji itu: dalam untung dan malang, dalam suka dan duka, dalam sehat dan sakit…terpatri di dalam dadaku.

Yohanes Jason Wiriadi, aku menerimamu sebagai suamiku….

***

Sementara di bagian atas gereja, di lantai 2. Susi terlihat duduk di sana. Berita pernikahan ini, sampai juga ke telinganya. Dia memotret, merekam acara ini. Sementara tak seorang pun menyadari kehadirannya di sana. Dia memang tengah melakukan penyamaran. Rambut dikuncir, bertopi, dan kaca mata hitam menghiasi wajahnya. Kali ini, senyumnya tak lagi sesinis biasanya. Tetapi, apa maksudnya juga? Masih membingungkan….Untuk apa dia hadir kembali terutama di saat bahagia Jason dan Vita?

Setengah berjingkat-jingkat, dia keluar dari gereja. Dan saat itu pula, misa yang sudah selesai dan acara photo-photo yang juga usai, membuat seluruh yang hadir mulai bubar perlahan.

Susi bersiap masuk ke mobilnya. Sedan hitamnya. Sementara dia mau membuka pintu mobilnya. Tangannya dihentikan oleh seorang lelaki yang memegang tangannya segera.

“ Ngapain kamu dateng ke sini, mau buat kacau lagi?” tanyanya.

Bersambung…

SG. 21 Juli 2010

-fon-

No comments:

Post a Comment