Sunday, October 10, 2010

10.10.10


Pagi hari…

Cuaca cerah, mentari bersinar. Tak terlihat mendung sedikit pun di langit. Kulangkahkan kaki bersama mamaku yang tengah berada di sini menuju gereja. Saigon Notre Dame Cathedral kumenuju. Sebelum misa, kulihat banyak pengantin berfoto di sekitar gereja. Pemandangan yang biasa sebetulnya, karena gereja menjadi salah satu tempat favorit yang sepertinya selalu menjadi tempat pilihan untuk lokasi pemotretan.

Mama mengingatkanku kalau hari itu (kemarin tepatnya) adalah tanggal yang cantik. 10.10.10. Sepuluh Oktober tahun dua ribu sepuluh. Tak heran ketika banyak orang memilih tanggal yang tak terlupakan itu untuk dikenang sebagai hari bahagia mereka.

Detik-detik bergulir. Cuaca masih terik.

Tiba-tiba cuaca terik itu berganti dengan cepatnya. Mendung menaungi dan aku tidak tahu persis jam berapa hujan keburu turun dengan lebatnya. Mendung kelabu memayungi seluruh langit Ho Chi Minh City. Aku merasa hujan ini akan berlangsung lama. Hujan masih turun dengan rapat-rapat. Udara dingin. Depan apartemen sudah menggenang air.

Tak lama kubaca status fesbuk beberapa teman di HCMC yang bilang bahwa rumah mereka sudah tergenang. Wah, jadi? Banjir beneran nih? Nampaknya iya, beneran deh…!

Tak disangka 10.10.10 jadi hari bersejarah juga buatku. Ternyata, itu jadi hari banjir pertamaku di HCMC. Menjelang setahun aku tinggal di sini, ternyata banjir itu terjadi juga dan di depan mataku. Semalaman kami tak keluar rumah, ternyata keputusan yang tepat juga mengingat akhirnya banjirnya semakin menjadi-jadi.

Aku terpikir, banyak pengantin yang pastinya sudah menanti-nantikan hari ‘H’ mereka. Setelah tiba, lha koq malah kebanjiran begini? Apa yang menurut manusia begitu cantik: 10.10.10, 09.09.09, 11.11.11, 12.12.12, dst…. Ternyata tidak melulu ‘cantik’ menurut alam, menurut Sang Pencipta. Aku turut prihatin, kalau acara-acara yang sudah direncanakan sejak lama… Acara-acara penting pula, tidak terselenggara dengan maksimal. Tetapi, mungkin inilah kenyataan yang harus diterima. Memang menyedihkan bahkan mungkin buat beberapa orang terkesan menyakitkan. Banjir, sebagaimana bencana lainnya, datang tak diundang dan tak pernah kita sendiri tahu akan terjadi.

Sampai siang ini ketika kutuliskan tulisan ini, hujan rintik masih mengiringi. Mudah-mudahan banjir tak lagi menyerang. Tetapi, lagi-lagi kupikirkan juga penanggulangannya. Dulu ketika tinggal di Singapura sekitar tahun 2006, terjadi banjir di Thomson Road yang langsung mengundang protes masyarakatnya. Tak lama, pemerintah langsung ambil langkah penanggulangan yang cepat. Dan peristiwa itu terselesaikan. Akhir-akhir ini, kejadian serupa yang cukup mengejutkan terjadi lagi. Kali ini, banjir menyerang Orchard Road, kawasan elite yang dibanggakan di Singapura. Lagi-lagi, memang penanggulangannya saya kira relatif cepat dibandingkan di negara lain. Beberapa sobat dari Indonesia tersenyum ketika mendengar banjir di Singapura jadi menghebohkan penduduknya.

“ Yaaa, kalau di kita mah, itu udah biasaaaa…Kalau mereka jarang-jarang kali yaaa hehe…”

Pengalaman ini takkan terlupa.

10.10.10 bagiku adalah banjir pertamaku di HCMC. Sekali lagi, memang kita tak pernah tahu kondisi cuaca yang kata orang-orang semakin tak terduga akhir-akhir ini. Banjir, longsor, bencana alam yang terjadi di banyak belahan dunia dari Indonesia, India, Cina, Vietnam, sampai Singapura juga tetap jadi bahan introspeksi: sudah sebesar apa upaya kita menghijaukan bumi dan tidak melakukan eksploitasi habis-habisan terhadapnya? Juga bagaimana tata kotanya, apa sudah dipikirkan untuk juga melestarikan alamnya? Banyak pekerjaan rumah yang harus kita benahi. Moga-moga kita makin memikirkan juga dari tindakan-tindakan kita pribadi untuk melestarikan bumi lebih lama lagi buat anak cucu kita. Bagi generasi selanjutnya.

HCMC, 11 Oktober 2010

-fon-

* masih diiringi hujan yang dari rintik-rintik menjadi semakin lebat.

Sumber gambar:

zazzle.com

No comments:

Post a Comment