Sunday, December 20, 2009

Damai di Bumi



*** Cerpen Natal

Sebagai seorang ibu dari seorang anak yang bersekolah di sekolah internasional, aku terkadang suka pusing. Bukannya kenapa, karena ekonomi kami sebetulnya pas-pasan. Rizky bisa masuk ke sekolah itu karena pertolongan dari kepala sekolahnya yang memberikan keringanan berupa bea siswa, karena tahu keluarga kami bukan tergolong mampu. Sisi lain yang terasa sulit bagi kami untuk beradaptasi adalah gaya hidup para murid dan orang tua di sekolah tersebut. Sekolah yang bernama ‘Star International School’ dan berlokasi tak jauh dari rumah kami di daerah Tangerang, memang menjadi pilihan bagi banyak anak selebriti, orang kaya dan tak jarang beberapa konglomerat katanya. Aku tak tahu pasti, tapi yang aku tahu pasti, kami sering kewalahan ketika mendapat undangan untuk pergi ke pesta ultah teman Rizky. Paling tidak di restoran cepat saji dan dihadiri oleh ratusan orang. Kalau tidak, ini yang lebih parah yang pernah kami terima, di hotel berbintang empat atau lima.

Biasanya kami hanya memberi kartu ucapan selamat dan itu pun diberikan kepada anak yang berulang tahun, sehari sesudahnya. Karena Rizky tak pernah kami ajak ke sana. Sebelumnya pernah satu dua kali kami hadir, kalau itu di restoran cepat saji. Tapi sering kali kami harus menahan diri dari kekesalan akibat dilecehkan oleh orang-orang berduit yang berlabel pengusaha yang sering menghina Rizky dan aku sebagai ibunya. Kami bisa menulikan telinga kami, tapi terkadang beberapa kata itu sudah terlanjur masuk ke hati, dan melukainya. Kalau hanya aku yang dilukai, masih tak mengapa. Tapi Rizky? Anak berumur sepuluh tahun itu rasanya masih terlalu muda untuk mengerti kejamnya dunia. Awalnya, kami sadar, bahwa ini yang akan terjadi. Namun, kami tak menyangka efeknya akan jadi begitu besar. Walaupun saya menyadari, tidak semua orang kaya sombong, dan tidak semua orang miskin rendah hati, tapi apa yang saya alami di sekolah internasional ini setidaknya membuka mata saya sekali lagi. Lebar-lebar.

Liburan kali ini, Rizky bilang, seluruh temannya sudah berlomba-lomba cerita tentang liburan ke Disneyland. Beberapa akan ke Hongkong, beberapa akan ke Jepang, dan beberapa akan ke Amerika Serikat. Bagi Rizky dan aku yang hanya ibu rumah tangga dan bersuamikan bapaknya Rizky yang hanya pegawai rendahan di perusahaan sekaligus pabrik kecap ternama di Indonesia, kami sadar sesadar-sadarnya bahwa liburan Natal bagi kami hanyalah tinggal di rumah saja. Tahun baru juga nonton televisi lokal tanpa fasilitas TV kabel, karena memang kami tak punya. Rizky hanya diam saja, sama seperti ibunya yang sering kebingungan kalau melihat kecanggihan para orang tua itu bertutur kata ketika pertemuan orang tua murid dan guru. Belum lagi dandanan mereka yang jet set, tas seharga puluhan juta, baju-baju keren bak artis sinetron dan rambut yang selalu rapi karena habis ‘blow’ di salon. Terkadang membuat diriku yang sudah merasa kecil, semakin minder dengan keadaanku. Bersandal sepatu warna hitam yang kubeli di toko di pasar, tas murah yang mudah-mudahan tak terkesan murahan warna hitam pula, lipstick warna merah muda dan polesan bedak ringan di kulitku, hanya itu yang kulakukan. Sementara rambut panjangku yang menyentuh pinggangku, kukepang kecil-kecil dan kubentuk sanggul. ‘Home made’, kreativitas sendiri, tanpa salon.

Jangan pernah berpikir bahwa kami tak pernah mempertimbangkan agar Rizky keluar dari sekolah itu. Beban mentalnya terlalu berat bagi kami, belum lagi Rizky. Namun, setelah dua kali kami menyatakan kepada Kepala Sekolah ‘Star International’ bahwa Rizky akan berhenti, tiap kali Kepala Sekolah pun memberikan dukungan berupa bea siswa sampai selesai O Level nantinya. Semakin pusing kami dibuatnya. Akhirnya kami teruskan, walaupun hati setengah bimbang. Bea siswa itu ditawarkan bukannya tanpa alasan, karena dari sejak masuk sampai hari ini Rizky selalu menduduki ranking pertama dari berapa pun kelas yang ada. Dia juara umum. Terima kasih kepada Tuhan, dalam kesederhanaan kami, Tuhan beri kepercayaan mendidik seorang anak pintar yang sebetulnya sangat penurut pada orang tua. Tapi tidak belakangan ini…

Terpengaruh suasana Natal yang ditampilkan di sekolah, omongan teman-temannya, dan iklan-iklan di TV, Rizky pun merengek pada kami untuk pergi ke luar negeri. Minimal Singapura katanya. Naik pesawat murah pun tak mengapa kata Rizky, tokh sekarang sudah tak perlu bayar fiskal kalau sudah punya NPWP (entah dari mana Rizky tahu, tapi dia bisa mengulangi hal ini kepada Bapaknya). Karena dia terus dihina teman sekelasnya yang bilang satu-satunya orang yang paling kuper di kelas dan tak pernah ke luar negeri adalah Rizky.

“ Nak, Ibu saja belum pernah ke luar negeri sampai hari ini. Bukannya Ibu tak mau, tapi Ibu tahu diri, karena gaji Bapak hanya cukup buat makan kita sekeluarga dan sedikit tabungan kita. Ibu mau sekali pergi sama kamu dan Bapak, tapi kita masih belum mampu, Nak…” Dengan sedih kuungkapkan kalimat-kalimat itu. Mengharapkan anakku mengerti. Bahwa kami cukup walaupun kami tak pernah ke luar negeri. Kami cukup, walaupun kami tak bisa merayakan ulang tahun Rizky di hotel berbintang empat atau lima. Kami cukup. Kami jauh lebih baik daripada mereka yang tak mampu makan tiga kali sehari, dari mereka yang harus mengais makanan dari tempat sampah guna menyambung hidupnya hari itu. Kami cukup.

Hatiku sedih sekaligus bahagia. Bahagia karena sadar, keadaan kami tidak terlalu buruk dibandingkan mereka yang lebih sulit daripada kami. Sedih, karena orang tua mana yang tak ingin memenuhi keinginan anaknya? Tapi kami memang belum mampu. Mau bilang apa…

Rizky memandangku dengan sedih. Dia amat kecewa, tapi dia berusaha tegar dan menerima.

“ Baiklah, bu… Kalau begitu, Rizky mau belajar yang pintar, biar dapat bea siswa ke luar negeri. Ke Singapura atau ke Inggris, Rizky mau lihat dunia!”

“ Gitu dong, anak ibu! Jempol!”

Aku senang melihat semangatnya yang bangkit lagi seperti itu. Aku senang bahwa dia tidak terpuruk dalam dukanya, malah melihatnya sebagai motivasi untuk berusaha lebih keras. Semoga Tuhan bukakan jalan untukmu, Nak… Semoga Tuhan juga melindungi setiap langkahmu di lingkungan keras seperti itu yang harus kaujalani tiap hari…

Seminggu sebelum Natal

Libur telah tiba. Aku dan Rizky tak ke mana-mana. Paling ke supermarket dekat rumah kami. Berbelanja sedikit, sesuai kantong kami. Kalau berbelanja banyak-banyak, uang dari mana? Rizky cukup senang hati ketika kubelikan cokelat Natal kecil. Dan kami pun membeli beberapa bungkus permen untuk diisi di dalam stoples. Bukankah suasana keceriaan tak harus mahal? Bukankah kami tetap berhak menikmati sedikitnya keceriaan itu walaupun tak mampu ke luar kota ataupun ke luar negeri?

Sepulang dari supermarket, di depan gang, kami jumpai beberapa anak kecil anak Bu Dullah, tetangga kami. Mereka saling berebut permen. Permen yang hanya dua butir, diperebutkan oleh empat anak Bu Dullah. Melihat hal itu, Rizky otomatis menjulurkan sekantong permen yang dipegangnya. Permen yang kami beli tadi. Sehingga mereka tak lagi ribut, malahan tersenyum dan berterima kasih pada Rizky. Lucu melihat gigi mereka yang sebagian ompong, tapi masih menyeringaikan senyum kepada kami. Sebungkus permen seharga lima ribu rupiah itu kami sumbangkan. Dengan rela. Karena kondisi Pak dan Bu Dullah lebih parah dari kami. Pak Dullah penjual sate ayam keliling dan Bu Dullah sesekali menerima jahitan baju. Walaupun dia hampir tak ada waktu menjahit sebetulnya karena masih harus mengurusi empat anak yang masih kecil-kecil. Yang tertua tujuh tahun, yang terkecil satu tahun setengah.

Rizky tersenyum. Aku pun bahagia. Rizky tahu artinya berbagi.

Di rumah, kembali aku puji dia, “ Nah, begitu dong, anak baik… Lihat, masih banyak yang lebih susah dari kita, Rizky. Mereka sekolah saja sulit, belum tentu bisa tamat. Rizky bisa sekolah di ‘Star’ itu sudah bagus.”

“ Betul, Bu.. Sekarang Rizky tambah sadar…Bahwa omongan Ibu memang benar. Rizky harus bersyukur.”

Tak lama kemudian kami menyalakan televisi. Kali ini ada berita kurang menyenangkan, sebuah pesawat internasional yang membawa dua ratus penumpang dan sepuluh awak pesawat, dinyatakan hilang. Dan pesawat itu bertujuan ke Hongkong. Rizky terkejut luar biasa, karena dia tahu, beberapa temannya sudah bicara padanya akan berangkat seminggu sebelum Natal ke Hongkong Disneyland. Dan karena penerbangan di akhir tahun selalu penuh, mereka sudah memesannya jauh-jauh hari dan Rizky tahu pula mereka naik pesawat apa dan jam berapa. Rizky tercengang. Tak mampu berkata-kata…

“ Rizky, kita doa, yuk… Doakan teman-teman kamu dan keluarganya yang ada di pesawat itu.” Kami pun masuk ke kamar dan berdoa sejenak.

Tak lama, nama-nama penumpang pun terpampang jelas. Rizky benar, setidaknya ada lima keluarga teman Rizky yang masuk di pesawat itu. Kami tertegun. Menghela nafas. Tuhan, berikan mereka pengampunan. Dan berikan keluarga yang ditinggalkan kekuatan untuk melangkah.

Rizky masih tertegun dan wajahnya masih ‘shock’. Masih terkejut. Namun, aku sadar, hari ini dia belajar sesuatu. Bahwa Natal tak selalu identik dengan pesta pora, bahwa Natal tak selalu sama dengan liburan mewah ke luar negeri, bahwa Natal tak selalu harus memberi hadiah mahal yang dianggap murah karena dibeli waktu ‘sale’ di mal ternama. Bukan hanya karena kami tak mampu menikmati semuanya itu. Memang kami belum mampu, tapi apakah esensi Natal hanya sebegitu dangkalnya? Bukankah Natal juga berarti berarti mendoakan mereka yang kurang beruntung. Natal kali ini berarti mendoakan mereka yang mendapat musibah. Natal berarti berbagi kepada mereka yang berkekurangan seperti keluarga Bu Dullah. Natal berarti mampu mensyukuri apa yang ada dan tidak mengeluhkan apa yang nampaknya selalu kurang saja di mata ini. Natal berarti mengingat kembali bahwa Sang Juru Damai datang untuk membawa damai-Nya dan kasih-Nya ke dunia yang penuh luka ini.

Damai dari surga pelan-pelan menyebar ke hati kami. Di rumah kontrakan kami yang sederhana, berdinding kayu dan berpagar hitam yang sudah sedikit berkarat, damai itu kami rasakan. Dan semoga keluarga yang ditinggalkan dari para korban kecelakaan pesawat tadi, walaupun amat sangat pedih, bisa pelan-pelan dipulihkan oleh kasih-Nya. Semoga damai-Nya tetap terasa di mana pun kita berada. Semoga damai-Nya meliputi setiap hati di bumi senantiasa. Hidup sering membawa kita kepada kejutan yang menyenangkan ataupun menyedihkan. Namun, damai-Nya semoga tetap menaungi hati kita, dalam apa pun yang terjadi. Pahit atau manisnya hidup ini, damai Tuhan selalu sertamu.

Selamat Natal, selamat berbagi kasih dan bersyukur untuk apa yang dimiliki, bukan apa yang tak dipunyai…

HCMC, Desember 21, 2009

-fon-

* let’s coming back to the essence of Christmas, God so loved the world, that He gave His only Son…. Peace be with you. Selamat Natal!

Sumber gambar:

http://www.thewayncc.org/images/Peace%20On%20Earth%20Hands.jpg

2 comments:

  1. @GKII Rehobot: cerpen tapi panjang, ya? hehehe...Ma kasih dah baca dan komen...GBU.

    ReplyDelete