Sunday, January 17, 2010

Tangisan dan Tawa Seorang Ibu



Tangisan seorang ibu bermula ketika dia mengetahui dirinya hamil. Tangisan bahagia sekaligus tawa sumringah berpadu menjadi satu. Ketika dia merasakan untuk pertama kalinya, ada seorang calon bayi yang tumbuh di dalam rahimnya. Dan akan merasakan serta menghirup kehidupan dunia dalam asuhannya dan naungan kasihnya. Setelah melewati bulan demi bulan kehamilan yang terkadang lancar dan mulus, tetapi tak jarang pula kehamilan itu diwarnai perjuangan untuk mempertahankan Sang Anak, membuat tangis dan tawa memenuhi hari-harinya.

Banyak kejadian ketika seorang ibu harus berjuang melawan rasa mual yang luar biasa umumnya dalam 3 bulan pertama, sampai kena maag karena terus-menerus muntah tanpa bisa diisi apa pun termasuk air putih. Belum lagi, ketika kandungan mulai membesar, tak jarang komplikasi beruntun. Mulai dari kadar gula darah yang meningkat dan mungkin membahayakan Sang Anak, kaki yang bengkak akibat kebanyakan garam dan kemungkinan menyerangnya preeklampsia serta dilanjutkan dengan eklampsia. Belum lagi ada resiko keguguran di tengah jalan akibat begitu banyak flek alias pendarahan yang terjadi selama kehamilan. Toksoplasma juga mungkin menggangu. Dan rentetan penyakit lainnya yang berpotensi menghentikan kehamilan itu seketika. Banyak kali, seorang ibu hanya menangis memikirkan kemungkinan-kemungkinan bahwa Sang Anak harus pergi dari rahimnya.

Tangisan haru seorang ibu berlanjut ketika Sang Anak lahir ke dunia dengan selamat. Disambutlah ia dengan suka cita. Saat itu berpadulah tangisan dan tawa menjadi satu. Bahagia menjadi seorang ibu, lengkaplah sudah dirinya sebagai wanita, sekaligus memiliki PR panjang untuk membesarkan anak. Bukan hanya memberikan ASI eksklusif dan menemani Sang Bayi dalam waktu-waktu panjang yang terkadang harus dilalui sendirian dalam malam-malam ‘sleepless nights’. Kurang tidur, begadang, jaga sampai pagi, bangun tengah malam, hanya untuk mengurusi Sang Anak. Sekaligus kebahagiaan tersendiri, tawa ceria kembali menghiasi ketika Sang Anak sudah mulai bisa tengkurap, merangkak, berdiri, duduk, berjalan. Ketika Sang Anak bisa mulai menggumamkan “Mama atau Papa,” selalu disambut dengan kebahagiaan luar biasa. Semua yang untuk pertama kalinya dicatat dalam buku hariannya, buku kehidupannya sebagai seorang ibu.

Ketika Si Anak mulai memasuki balita sampai mereka lebih mengerti mungkin sekitar umur 7-8 tahunan, tangisan itu terkadang hadir ketika harus mendidik dan mendisiplinkan Sang Anak. Karena lelah, karena tak sanggup menahan segala tekanan ketika mengasuh anak apalagi jika ibu ini bekerja atau ibu rumah tangga tanpa bantuan dari pembantu atau ‘baby sitter’, terkadang menjadikannya tidak sabaran. Dan ketika dia mulai marah kepada anaknya, berteriak kencang, sering kali dia kemudian menyesali apa yang dilakukan. Namun memang Si Anak terkadang juga masih belum mengerti dan melakukan apa yang dilarang. Tak jarang membahayakan Si Anak sendiri. Dalam ketakutan, dalam kekuatiran, dalam kelelahan, tak jarang Si Ibu menyimpan tangisnya sendirian. Walaupun tawa ceria juga hadir ketika Si Anak semakin pintar, semakin cerdas, semakin mampu berdoa, semakin menceriakan hari-harinya.

Tangisan juga hadir dari dulu ketika Si Anak lahir, terutama ketika dia sakit. Dengan pikiran yang umum, “ Mending Mama yang sakit daripada kamu, Nak,” begitu kata hati seorang ibu. Si Anak kecil yang belum lancar bicara, ketika sakit tak mampu bilang bagian mana yang sakit. Dia hanya menangis dan sebagai ibu pasti juga menangis sedih melihat Si Anak sakit. Tangisan ini terkadang menjadi lebih keras, ketika Si Anak sakit keras dan mungkin sulit diobati. Pergumulan antara uang yang pas-pasan yang terkadang sampai tak cukup untuk berobat dengan keinginan untuk menyembuhkan Si Anak apa pun yang terjadi, menjadi dilema tersendiri. Namun ketika Si Anak kembali sembuh seperti sedia kala, yang ada hanya senyuman bahagia. Syukurlah, anakku sudah sembuh!

Tangisan bahagia itu hadir ketika melihat Si Anak melewati masa-masa sekolahnya. Tahun berganti tahun, TK-SD-SMP-SMU-Universitas, pelan-pelan terlewati dengan segala masalah yang mengiringinya. Kurang biaya sekolah, anak berpacaran sementara konsentrasi terhadap pelajaran menjadi buyar namun akhirnya bisa dilewati semua dengan baik. Setelah kuliah, Si Anak bekerja dan tak lama akan menikah.

Dalam pergumulan menentukan jodoh, seorang ibu juga sering menangis mendoakan anaknya yang belum juga mendapat jodoh sementara usia sudah beranjak terus. Gelisah, resah, galau, berganti ceria ketika Si Anak sudah mendapatkan jodoh yang sesuai. Tangisan itu masih mengiringi ketika Sang Cucu hadir. Tangisan haru. Tangisan bahagia. Bercampur senyum manis sumringah. Satu babakan hidup lagi sudah berlalu.

Tangisan dan senyuman itu terus dan terus berjalan. Tak henti-hentinya. Bukankah dalam setiap babak kehidupan juga adalah gabungan keduanya? Tak mungkin juga senyum terus-menerus. Atau sebaliknya, selalu menangis tak kunjung usai. Seorang ibu terus mengkhawatirkan anak-cucunya. Selalu terlibat dalam tangisan dan senyum suka cita. Selalu berdoa untuk anak-cucunya agar mereka sehat dan bahagia. Walaupun dia simpan air matanya, dia menegarkan dirinya untuk mengarungi kehidupan ini. Berdiri tegar bagi keluarganya.

Beberapa perkawinan harus hancur di tengah jalan. Karena ketidakcocokan lagi sehingga harus bercerai atau mungkin karena salah satu pasangan meninggal terlebih dahulu. Ibu mana yang bisa tak peduli dengan hal-hal semacam ini? Dia menangis bersama anaknya untuk setiap kejadian memilukan seperti ini. Dan memberikan harapan serta kekuatan, bahwa akan ada hari esok yang lebih baik. Yang harus dilakukan hanyalah tetap berharap dan tak berhenti berjalan. Tetap percaya akan keindahan kehidupan yang mungkin tersembunyi, namun selalu ada bagi mereka yang mau mencari dengan teliti dan tanpa henti.

Tangisan dan tawa mengiringi kesetiaan seorang ibu sampai akhir hayatnya. Dan bersama figur ayah yang juga setia, mereka bersama mengarungi bahtera rumah tangga sampai maut memisahkan mereka serta mempersatukan mereka kembali dengan Sang Pencipta.

HCMC, 18 Januari 2010

-fon-

* berterima kasih buat semua ibu, tangisan dan tawa ceriamu membuat perbedaan di dunia ini. Lain kali akan ada sekuel tentang ayah (biar adil :)). Tentu saja ini berlaku pada umumnya, di luar kisah para ibu yang kurang peduli pada anaknya yang masih saja kita dengar sampai hari ini. Tetapi, banyak pula ibu yang tetap setia dalam tangisan dan tawanya bagi anak-anak mereka. Terima kasih.


Sumber gambar:
http://www.coconino.az.gov/uploadedImages/Health/mother%20holding%20baby.jpg

No comments:

Post a Comment