Thursday, November 5, 2009

Kemudahan dan Kesulitan



Ketika hidup dipenuhi kesulitan, masalah, dan problematika yang tampaknya senantiasa tersenyum ramah -merongrong terus- dan tanpa henti… Rasanya, saya betul-betul kewalahan. Ingin melakukan sesuatu, tetap terbentur keadaan. Maju kena, mundur kena. Ada kalanya hanya bisa duduk di satu sudut kehidupan saya tanpa bisa melakukan apa pun. Hanya termenung dan berharap, suatu saat hidup akan menyapa saya dengan keramahan yang sempat saya nikmati.

Sebaliknya, ketika hidup dipenuhi kemudahan, rasanya semua lancar dan baik-baik saja. Sampai suatu ketika, saat masalah kembali menghampiri. Rasanya pusing lagi, puyeng lagi, marah lagi, be te lagi, sebel lagi, kecewa lagi.

Mengapa lagi-lagi masalah tak kunjung pergi?

Setelah mengalami siklus kesulitan, kemudahan, kembali kepada kesulitan dan kemudian merasakan kemudahan lagi… Setelah mengamati bahwa hidup adalah perputaran dari kesulitan menuju kemudahan, kemudian menemukan kesulitan yang baru dan merasakan kemudahan yang berikutnya dan selalu berulang tanpa henti…

Akhirnya, saya mengambil kesimpulan...

Hidup yang dipenuhi kesulitan, tidak selalu jelek. Tidak seburuk yang kita sangka. Memang ada kalanya kita hampir putus asa tanpa bisa melakukan apa pun. Dan ada kalanya pula terasa hati kita ditimpa batu yang begitu berat, tanpa bisa melakukan apa pun kecuali bertahan walaupun dalam isak tangis sambil membawa batu itu dan terus berjalan.

Kesulitan sering kali membuat banyak orang berpikir kreatif dan bagi banyak orang pula banyak hasil karya yang luar biasa: entah itu tulisan, entah itu musik, entah itu lukisan, entah itu ide bisnis, yang timbul di saat-saat tersulit dalam hidup. Kemampuan untuk mengolah masalah menjadi satu titik tolak untuk bergerak maju memang sangat membantu. Tetapi, ketika rasanya tidak satu pun hal bisa dilakukan, mungkin ada baiknya bersabar. Berdoa. Berusaha lagi.

Kesulitan bisa membuat kreativitas muncul dan dapat pula mematikan seluruh kemampuan berpikir kreatif saat diri sudah tak mau lagi berusaha. Kehilangan harapan, merasa diri adalah orang termalang sedunia. Hal ini pasti dapat dimengerti dengan baik bagi mereka yang pernah mengalami malam yang dirasa adalah malam tergelap dalam hidup mereka. Bagi mereka yang pernah mengalami saat yang teramat kelam tanpa ampun, bagi mereka yang berbeban amat berat, bagi mereka yang menjerit sekuat-kuatnya dalam hati… Pada saat seperti itu memang tidak ada andalan yang paling ampuh, selain iman kepada Tuhan. Mungkin banyak orang akan lari ke sana-sini guna mencari cara bagaimana mereka terlepas dari rasa stress dan frustrasi. Dan pada akhirnya, semua pencarian di luar Sang Pencipta, rasanya akan berbuah sia-sia. Karena mereka hanya melarikan diri dari satu hal ke hal yang lain. Mencoba mencari siapa tahu, ini jalan pembebasan bagi mereka. Mencoba rasanya narkoba, mencoba rasanya seks bebas, mencoba rasanya melanglang buana di situs pornografi. Masih dengan harapan terbebas dari kesulitan dan kesakitan. Dan pada akhirnya kembali mengalami kekecewaan bahwa pilihan mereka itu hanyalah hal-hal semu belaka. Yang mungkin memberikan kebebasan sementara dan ketika ‘obat bius’ itu hilang, kesadaranlah yang muncul dan kesakitan masih tetap sama. Bahkan bisa bertambah.

Kesulitan juga merupakan satu ‘privilege’, satu keistimewaan, saat di mana kita bisa membina keakraban dengan Sang Pencipta. Bukan dengan melulu doa penuh basa-basi. Bukan melulu dengan doa penuh rayuan pulau kelapa. Melainkan doa yang tercipta dengan penuh ketulusan dari lubuk hati terdalam. Bak Kitab Mazmur yang menyajikan perubahan sikap dari kemarahan akan Tuhan, sampai akhirnya menerima dan melihat kembali kebaikan Tuhan dalam hidupnya. Perubahan seperti itu yang sebetulnya ditunggu-tunggu. Iman selalu akan naik turun. Tidak pernah konstan. Namun, yang patut diingat adalah: Tuhan selalu baik. Tuhan selalu mengerti dan mengasihi kita. Masalahnya kita tak sanggup untuk selalu melihat kebaikan-Nya itu karena tertutup oleh kesulitan kita.

Pada akhirnya, saya berterima kasih kepada-Nya untuk masa-masa sulit dalam hidup saya. Masa-masa yang saya yakini akan membawa perubahan besar dalam diri saya, hanya untuk menjadi seseorang yang lebih baik. Saya tak pernah sempurna, walaupun seberapa hebat saya berusaha, karena kesempurnaan itu hanya milik Tuhan. Dan saya tak berkeinginan untuk merampas hal itu dari diri-Nya. Biarlah itu milik Tuhan. Bagian saya hanyalah menjadi orang yang sabar dalam menyikapi perubahan. Menyikapi ketidaklancaran hidup yang sering mendatangi kita.

Dan menyadari pula bahwa kemudahan terkadang melemahkan saya. Membuat saya terlena dan berpuas diri. Dan terkadang kemudahan itu membawa keegoisan bagi diri, karena mau terus enak tanpa peduli sekitar. Di saat menikmati kemudahan, saya sering lupa bahwa di sekitar saya banyak sekali orang-orang yang jauh kurang beruntung. Bahwa banyak dari mereka yang tak mampu makan tiga kali sehari. Bahwa banyak dari mereka yang harus menahan tangis karena tak mampu menyekolahkan anaknya, tak mampu membawa anaknya ke rumah sakit, tak mampu mengobati penyakit berat anaknya dan hanya bisa menyaksikan kematian buah hatinya. Saya jadi malu hati…Karena saya sering kurang mensyukuri segala yang tampaknya sebagai kesulitan bagi saya. Sementara, di luar sana banyak orang yang merasakan kesulitan seratus kali lipat dibandingkan saya.

Saya juga tak berkeinginan untuk menjadi orang yang sombong dengan berkata bahwa saya pasti mampu melewati semua permasalahan dengan kekuatan saya. Karena terbukti, bagi orang-orang seperti ini, akan merasakan kelelahan fisik dan mental luar biasa. Karena mereka terlalu bergantung pada kekuatan diri sendiri yang sebetulnya amat terbatas. Dan pada akhirnya, untuk setiap kesulitan ataupun kemudahan yang saya alami, saya berterima kasih. Berterima kasih kepada-Nya bahwa ini adalah kesempatan saya untuk belajar menjadi orang yang lebih baik. Syukur-syukur, lebih bijak. Dan tidak ‘ngedumel’ atau ‘ngomel’ ketika kemudahan itu ditarik pergi dari hidup saya ganti dengan kesulitan yang seolah tak terselesaikan di benak saya.

Ya, benak dan pikiran saya terbatas. Untungnya, saya punya pegangan dalam Dia yang tanpa batas. Dan bukankah kemudahan dan kesulitan itu akan terus datang silih berganti? Kalau iya, mengapa saya harus kuatir ketika kesulitan datang dan kemudahan itu pergi? Hati saya tenang ketika saya teringat bahwa saya berjalan bersama-Nya, dalam suka maupun duka di hidup ini.

HCMC (Saigon), 6 November 2009

-fon-


gambar:http://4.bp.blogspot.com/_dxyySndCz8U/SBfXwH3GMSI/AAAAAAAAAAY/NP7L3P68mm4/s320/worshiping.jpg

No comments:

Post a Comment