Saturday, May 29, 2010

Thank God I Found You Part 9



*** Episode: Rencana Tinggal Rencana…

Previously on Thank God I Found You 8 (Episode: Chaos (Kacau))…

Pria yang ditemui Vita di Bandung ternyata adalah Joko, mantan kekasihnya yang menghilang sejak kecelakaan motor. Joko terdampar di frateran dan kini membantu di Susteran Hati Suci. Vita masih ingin mencari tahu soal Joko, namun tertunda sementara karena mereka harus masuk kamar di biara itu. Di kamar dia bercerita kepada Santi, sementara Santi mendapat telepon dari rumah Vita. Vita mengecek handphonenya, ada banyak missed calls dan sms, terakhir Vino bahkan bilang akan lapor polisi jika Vita tak jua ada jawabannya. Akhirnya, Vita mengirim sms kepada Vino dan Jason, hanya untuk bilang dia di Bandung dan akan kembali beberapa hari berikutnya. Sementara di CITOS, Bakerzin, Susi dan Willem tengah merayakan kebahagiaan mereka karena berhasil mengacaukan Vita dan Jason. Di tengah kegembiraan itu, Jason tiba-tiba muncul dan mengetahui persekongkolan mereka. Bagaimanakah kelanjutan ceritanya? Simak di episode berikut ini…

Episode: Rencana Tinggal Rencana…

Biara Hati Suci- Bandung, Minggu Pagi…

Pukul delapan pagi. Setelah sarapan dan doa pagi, aku dan Santi ikut rombongan Suster dan beberapa awam yang ingin terlibat kegiatan ini, masuk ke gang sempit tak jauh dari biara. Di gang sempit itu ternyata banyak sekali rumah penduduk. Rumah kayu, rumah bedeng, yang berdempet amat rapat satu dengan lainnya. Dua lantai diisi dua keluarga. Sementara satu keluarga menempati areal sekitar dua meter persegi. Diisi ayah, ibu, tiga anak kecil, plus seorang bayi yang baru lahir. Diriku tercenung pagi ini, kalau aku tak jua bisa memandang hidupku dengan penuh syukur, apa jadinya orang-orang yang lebih berkekurangan seperti ini? Atau mungkin malah mereka ironisnya lebih bisa mensyukuri hidup apa adanya? Jujurnya, dalam fokus akan diriku dan kehidupanku sendiri, serta permasalahan percintaanku, membuat aku melupakan banyak hal yang enak yang sudah kunikmati. Aku tak pernah kesulitan makan, aku punya keluarga yang mencintaiku, kamarku cukup nyaman. Rumah kami lumayan luas ketimbang yang ditempati keluarga-keluarga ini. Kami sekeluarga punya mobil, bisa naik taksi. Sementara keluarga-keluarga ini, ayahnya rata-rata berprofesi sebagai buruh harian: tukang bangunan, tukang becak, tukang ojek. Sementara istri tak bekerja atau kerja jadi pembantu harian pula. Mereka memang harus bergulat melawan kemiskinan. Belum lagi tatapan polos anak-anak mereka yang entah nantinya bisa sekolah atau tidak. Kalau mengandalkan orang tua mereka, tentunya sulit. Untuk itulah, biara membuka bantuan bagi pendidikan mereka. Jika mereka mau tentunya, karena tak pernah ada paksaan dari pihak biara untuk memaksakan mereka untuk mengganti kepercayaan mereka walaupun seringnya dicurigai. Ketulusan biara memang sulit diterima orang banyak, namun itu yang menjadi tujuan mereka sampai saat ini.

Keharuan demi keharuan membungkus diriku. Melapisi tiap bagian hatiku dengan kehangatan baru, karena aku sudah terlanjur lupa kata syukur akhir-akhir ini. Perjalanan semacam ini membukakan mataku sekali lagi, bahwa aku memang sepatutnya bersyukur untuk apa yang kumiliki.

Joko tidak ikutan dalam rombongan ini karena dia harus bersih-bersih di biara. Aku sempat memikirkan bagaimana kelanjutan hubungan kami semalam. Sudah kuputuskan, ketika Joko memutuskan untuk berpisah mungkin itulah jalan yang terbaik bagi kami berdua. Biarlah Joko dalam ketenangannya di hidup ini yang ditemukannya di biara ini. Biarlah aku kembali ke pangkuan Jason atau juga mungkin tidak lagi, ketika segala sesuatunya sudah terlanjur seperti ini.

Kami pulang ke biara untuk mempersiapkan diri mengajar anak-anak yang datang pagi itu. Aku ikut sebagai asisten Suster Anna dalam mengajar pagi ini. Santi juga. Jam sudah menunjukkan pukul 10.30 ketika biara dibuka dan anak-anak gang sempit membanjirinya dengan penuh sukacita. Aku jarang melihat kegembiraan semacam itu, di tengah teman-temanku kata syukur pun seolah hal yang sulit diucapkan. Mungkin, kami memang harus terus belajar…

***

Makan siang selesai pukul 12.45. Sedikit lebih terlambat dari biasa, karena mereka juga menyediakan sedikit kudapan ringan buat anak-anak kecil itu. Yang menyambut pisang goreng, keripik kentang dan teh manis dengan sukacita. Kembali menampar diriku, betapa aku kesulitan untuk berterima kasih untuk ayam goreng, empal, dan nasi uduk yang menghiasi hariku? Syukur…Ajarilah aku hidup di dalammu…

Aku dan Santi bergegas meninggalkan biara. Pamit pada Suster Anna, Suster Paula. Dan terakhir: Joko…

“ Joko, aku pulang, ya. Kamu baik-baik di sini. Terima kasih karena kita berjumpa lagi dan masalah kita yang dulu sempat tertunda selesai juga. Tak ada dendam, tetap jadi teman, ya…” Kuulurkan tanganku dan kutatap matanya dengan tulus.

“ Baik, Vit. Aku juga mungkin ingin menjadi seorang yang mengabdikan diri sampai nanti di biara ini. Aku tak tahu akankah aku jadi frater atau tidak. Yang pasti di sini kutemukan damai yang selalu kucari itu. Selamat untuk hidupmu selanjutnya. Kita tetap teman. Terima kasih, Vit,” dia menyambut uluran tanganku. Tatapan matanya tak kalah tulus.

Joko…‘Friends will be friends.’

Kulambaikan tangan kepada Suster Anna dan Suster Paula, serta Joko yang mengantar kami sampai gerbang biara. Lain kali, kalau Santi mau datang lagi, aku sudah pasti mau ikutan. Entah kapan, mungkin setelah semua drama di hidupku ini selesai? Iya, aku mau datang kembali ke sini….Tuhan, semoga bisa ya…:)

Bandara Internasional Cengkareng, Minggu pukul 14.00

Willem mematung. Memandangi Susi yang sudah menyelesaikan ‘check in’ pesawat Singapore Airlines yang akan membawanya ke Singapura. Keputusan untuk terbang siang ini, diambil secara mendadak karena mereka sudah ketahuan oleh Jason kemarin. Rencana Susi selanjutnya adalah berada di Singapura dulu untuk menenangkan dirinya. Lagi. Seperti beberapa tahun lalu. Karena segalanya seolah sudah mentok untuk saat ini. Mungkin dia terlalu cepat menyerah kali ini, tetapi Susi rasa ini yang terbaik sementara mereka tak bisa melakukan apa pun lebih baik dia menyingkir perlahan sambil berpikir strategi selanjutnya dan sekaligus menenangkan dirinya.

Ada rasa tak rela ketika Willem mengantar Susi ke bandara siang ini. Rasa yang sudah begitu akrab dengannya, wajah yang begitu cantik yang sudah jadi bagian hidupnya. Dia tak rela.

Sebelum memasuki pintu yang memisahkan mereka, Susi melambaikan tangannya. Bersiap untuk masuk ke imigrasi dan ‘gate’ penerbangannya. Willem masih mematung, diam. Tak bisa mengucapkan apa-apa. Hanya membalas lambaian singkat. Waktu seolah berhenti baginya saat itu. Hatinya sakit luar biasa, terpisah dari Susi. Hal yang tak pernah disangka-sangka olehnya.

Dia perlahan berjalan menuju mobilnya. Pak Sopir sudah menunggu dan mereka bergegas pulang. Dalam BMW hitamnya, Willem tak kuasa menahan tetesan air matanya. Dia yang tengah emosional, kembali merasakan ketidakseimbangan jiwanya ketika harus berpisah dari Susi. Dia menyuruh Pak Sopir mengantarnya ke apartemen tempat dia bertemu dengan Susi beberapa waktu yang lalu. Di Kuningan. Dan di situlah dia mulai melamun, membayangkan Susi dan dirinya dalam impian yang tak jelas tentang masa depan mereka.

“ Aku pergi tak lama, Will. Kamu yang penting sabar menanti. Lagian, Jakarta-Singapura ‘kan dekat. Kamu bisa kunjungi aku kapan saja,” ujar Susi.

Willem masih tercenung. Diam. Perlahan, diambilnya obat penenangnya yang memang setiap hari masih diminumnya untuk mengobati depresi yang dia derita. Entah mengapa, hari itu obat-obatan penenang itu melambai-lambaikan tangan mereka. Willem menyambut ramah, memasukkan mereka ke mulutnya. Masalahnya, itu dosis untuk dua minggu. Masuk sekaligus ke perutnya. Overdosis. Tetapi Willem tak peduli. Dia ingin tenang dan (mungkin) bisa membuat Susi pulang lebih cepat dan tak lagi meninggalkannya?

Willem diam. Mematung. Duduk di sofa, mendengarkan lagu klasik dari ‘Inspirational Moments’ kegemarannya. Tak lama dia tidur. Mungkin, untuk selamanya…

***

SMS yang masuk ke handphoneku sebagian dari Jason. Dengan nada gembira, Jason mengabarkan bahwa Susi dan Willem ternyata bersengkongkol dan sudah ditemuinya di Citos. Jason bahkan bilang dia sudah pastikan ingin menikahiku. SMS terakhirnya: “ Vita pulanglah. Kita rencanakan pernikahan kita, yuk!”

Aku tersenyum. Bahagia. Kukabarkan berita itu kepada Santi yang juga melonjak girang di kursi setirnya. Bahkan dia sejenak bertepuk tangan untuk meluapkan kegembiraannya bagiku.

“ San, ati-ati loe!” Begitu ujarku.

“ Santai, Vit…Santai, aku ‘kan jagoan nyetir. Hahaha.” Tawanya lagi. Sumringah dan lepas seperti biasa.

Tak lama, sebuah truk melaju dengan cepat dari belakang kami. Kami yang di posisi kiri jalan tol Bandung-Jakarta ini, dilibasnya. Truk besar bermuatan banyak kotak itu menabrak Jazz hitam Santi. Dalam tawa kami, dalam ceria kami, kami jadi lengah. Akhirnya, celaka!

Santi pingsan tak sadarkan diri, terjepit di kursi sopir. Sementara diriku terluka. Kepalaku mengeluarkan darah. Kami harus cari bantuan, tapi bagaimana?

Kuraih handphoneku, kutelepon Jason seketika mumpung aku masih bisa. Mumpung aku masih sadar.

“Jason, aku dan Santi kecelakaan di tol Bandung-Jakarta. Tolong hubungi keluargaku dan hubungi polisi. “

Tak kudengar lagi jawaban Jason, karena aku juga pingsan.

Bersambung…

HCMC, 29 Mei 2010

-fon-

sumber gambar:

http://2.bp.blogspot.com/_6X61jPk8PYg/S_flAFHIceI/AAAAAAAAAf4/kUJvvhhcw6o/s1600/Thank+God+I+found+You.jpg

No comments:

Post a Comment