Sunday, June 6, 2010

Thank God I Found You Part 11


*** Episode: The Changes

Previously on Thank God I Found You part 10 (Episode:Pilu)

Vita berada di Rumah Sakit Advent, Bandung. Dia tak lama sadar, namun merasa kehilangan Santi yang ternyata kena pendarahan otak dan harus dioperasi segera. Sayang, operasinya tidak berlangsung lancar, Santi meninggal dunia diiringi tangisan orang tuanya dan kepiluan di hati Vita.

Willem yang mencoba bunuh diri, dilarikan ke RS. Medistra untuk kemudian mendapatkan pertolongan. Sementara, Mama Willem menelepon Susi yang baru saja sampai di Changi Airport. Tak lama, Susi berubah pikiran dan memutuskan untuk kembali ke Jakarta dan menemui Willem karena diam-diam rasa itu sudah berkembang ke arah cinta. Bagaimanakah kelanjutan cerita TGIFY ini? Simak di episode berikut ini…

Episode: The Changes

Pernahkah kaubangun dari tidurmu dengan rasa kehilangan yang besar? Seolah ada rongga yang betul-betul kosong di dalam hatimu? Bahkan selama tidur pun sebetulnya adalah siksaan karena kau tak benar-benar bisa tidur dalam kondisi batin yang terluka. Rasa kehilangan ketika seseorang yang dekat di hati harus pergi untuk selamanya, walaupun diyakini sebagai sesuatu yang baik bagi orang tersebut karena tugasnya di dunia sudah usai, tetaplah bukan hal yang mudah untuk diatasi oleh orang-orang yang ditingalkannya.

Pagi ini, aku terbangun dari tidurku yang kualitasnya hanya kurang dari dua jam lamanya. Ya, yang benar-benar tidur hanya segitu, sementara sisanya yang delapan jam di tempat tidur pikiranku melayang tak tentu arah. Yang kulakukan semalaman: menangis, terisak, mengambil tissue, berdoa, mengingat hari-hari bersama Santi sobat sejatiku yang harus meninggalkanku dengan begitu tiba-tiba. Seolah direnggut secara paksa. Walaupun satu sisi aku berusaha merelakannya, namun apa boleh buat, di sisi lainnya aku harus berjuang dengan rasa kehilangan-mengasihani diri dan sepi. Padahal ada Jason di sisiku. Maksudku, aku punya seorang kekasih, namun ketika sobat akrabku harus pergi di usia yang belum sampai empat puluh karena kecelakaan….Hatiku tak kuat juga.

Kemarin, di makam Santi dengan kondisi Jakarta yang diguyur hujan.

Kupegang payung hitamku. Payung besar yang senada dengan suasana hatiku. Hitam, kelabu, menggambarkan kesedihanku. Upaya menaburkan bunga di tengah hujan deras di makamnya seolah pekerjaan yang sia-sia. Baru kutabur sedikit, hujan membuyarkannya. Namun, yang pasti bunga itu tetap ada di sana, walaupun tidak dalam posisi rapi seperti yang kuinginkan. Seperti bunga persahabatanku dan Santi yang tak lekang dimakan usia, tetap akan ada di memoriku. San, selamat jalan!

Mulutku terus berucap: ‘Selamat Jalan’. Namun, masih ada bagian dari hatiku yang sulit menerimanya. Terbukti, aku insomnia. Berpikir banyak, merenung banyak tentang persahabatan kami… Tuhan, ini terlalu berat bagiku. Setelah semua drama yang kualami, hanya Santi yang begitu setia menemani. Tetapi, mengapa akhirnya harus begini?

Aku mendesah. Mencoba untuk tidur kembali. Walau nampaknya sia-sia, akhirnya malah kuambil tissue lagi….. Menangis lagi…

Bandara Soekarno-Hatta, Jakarta

Susi menjejakkan kakinya kembali di bandara Soekarno-Hatta. Dengan tergesa ia naik taksi, langsung menuju RS. Medistra. Perjalanan tidak terlalu macet, lewat tol tentu saja.

Di RS, Mama Willem sudah menunggunya. Susi pun sempat melakukan kontak via telepon untuk menghubungi Mama Willem dan memberitahukannya bahwa ia sudah sampai di Jakarta.

Medistra kamar 306.

Willem terbaring lemas. Sudah sadar beberapa waktu yang lalu. Setelah melewati proses koma, tak lama untungnya dia sudah siuman. Tetapi, dia masih tanpa tenaga. Dia lemas. Sementara di otaknya hanya SUSI dan SUSI saja…

Mama Willem perlahan mengelus kepalanya.

“ Ngapain kamu sampai frustrasi begitu, Will? Ini Susi mau pulang menjengukmu.”

Willem hanya mengangguk perlahan. Walaupun hatinya berdegup kencang dan bergembira, dia masih terlalu lemas untuk berteriak riuh menunjukkan kebahagiaan hatinya.

Susi datang. Dress warna putih dengan ikat pinggang keemasan menambah cantik dan anggun dirinya. Sepatu dan tasnya pun senada, merk ternama, semua dalam nuansa putih. Kalau begini, dia mirip seperti bidadari.

“ Will, gimana kamu?” Tanyanya cemas. Tak lama, dia pun berujar: “ Tante, kelupaan, maaf… Perkenalkan, saya Susi.”

Mama Willem menyambut jabatan tangan Susi dengan riang. Kalau begini cantiknya, dia juga senang jika ini calon menantunya. Menggantikan Vita yang tentunya tidak sebanding jika disandingkan di sebelah Susi yang bak selebriti atau model ini.

Masih dalam kekagumannya, dia menjawab:

“ Oh, Susi! Saya Mamanya Willem. Senang bertemu dengan kamu.” Wajahnya menyeringaikan senyum yang sedikit dibuat-buat plus kekaguman yang teramat sangat melihat kecantikan wanita di depannya itu. Susi memang menawan. Pria dan wanita pastinya berdecak kagum melihat kecantikan wajahnya.

“ Sekarang Tante bisa mengerti, mengapa Willem sampai begitu cemasnya ditinggal kamu. Kamu memang cantik, Susi. “ Sambungnya lagi.

Susi tersenyum. Tak lama melanjutkan konsentrasinya pada Willem yang terus memandanginya sejak tadi.

Willem berseru perlahan sekali:

“ Sus, i…i…ini bukan mimpi, ‘kan?”

“ Bukan, Will. Aku kembali untuk kamu. Kamu cepat sembuh, ya!” Senyum manis terus menghiasi wajahnya sambil mengelus pipi Willem perlahan.

Willem mengangguk dan berjanji dalam hati.

“ Pasti, Sus. Pasti aku mau cepat sembuh asal kau ada di sisiku.”

***

Aku merasakan perubahan pada sikapku. Terutama sejak kematian Santi. Aku tak lagi bisa jadi diriku. Bahkan harus kuakui cintaku pada Jason sedikit memudar. Bukan karena aku tak cinta, namun aku masih trauma. Jika kau menyaksikan sendiri kematian seorang sahabatmu seperti yang kualami, mungkin barulah kau mengerti. Aku mulai berpikir untuk menyingkir kembali dari seluruh kesibukan ini, mungkin: suatu perjalanan. Entah perjalanan spiritual atau perjalanan wisata bagi diriku sendiri. Ya, sendiri. Untuk kembali menenangkan diriku. Sebetulnya, ketenangan itu sudah hampir kudapatkan di Bandung. Kalau saja, semua berjalan lancar tidak seperti sekarang ini. Sudah kudapatkan untuk kemudian kedamaian itu lari lagi dari diriku.

Tak ada pilihan kecuali aku cuti kerja tanpa dibayar (‘unpaid leave’). Aku trauma. Mungkin aku bisa kembali ke Bandung dan berkeluh kesah dengan Suster Anna. Namun, aku sendiri takut kalau perjalanan ke sana menjadi sangat emosional setelah kematian Santi. Belum lagi ada figur Joko di sana yang memang sudah menjadi sahabatku sendiri, tapi ah…aku perlu ketenangan dalam bentuk yang lain.

Jason terus datang ke rumahku, memberikan kekuatan bagiku, namun apa daya aku yang masih belum bisa kembali seperti dulu menanggapinya dengan dingin. Terkadang bak angin lalu. Lama-lama kalau begini, ia juga bisa bosan padaku. Secara jujur kuakui permasalahanku dan rencanaku untuk pergi. Lagi. Mungkin jalan-jalan akan membantuku? Aku tak tahu, yang pasti aku miliki keinginan kuat akan hal itu.

Setelah diskusi dengan Mama, Vino, dan Jason, mereka pun mendukung keinginanku. Walaupun mereka kuatir, namun mereka tahu itu perlu bagiku. Tujuanku? Aku masih ragu. Antara Thailand, Vietnam, Malaysia, atau malah Australia. Aku masih belum tahu. Yang pasti bukan negara yang terlalu jauh. Akhirnya, aku coba ‘search’ di Air Asia, ternyata ada tiket murah ke Ho Chi Minh City. Ya sudah, aku beli saja segera. Tiket bolak-balik, tidak sampai satu setengah juta rupiah. Dan Mama pun setuju karena di sana, di Ho Chi Minh, ada teman sekolah Mama dulu, Tante Fifian. Tante Fifian yang seringnya kupanggil Tante Fifi juga memperlakukanku sebagaimana layaknya anaknya sendiri. Dia tak punya anak kandung, hanya seorang anak angkat yang dia perlakukan sebagai anak kandung dan mencintainya sebagaimana seorang Ibu kandung.

Segera setelah kudapatkan tiket itu, mendapatkan izin ‘unpaid leave’ selama sebulan di kantorku, Mama langsung menelepon Tante Fifi yang menyambut gembira kedatanganku. Mudah-mudahan perjalanan ini menyembuhkan sebagian dari diriku yang hilang. Aku tak berharap banyak, karena setelah sekian lama bersama Santi dan dia terenggut secara tiba-tiba begini, pastinya butuh proses sekaligus butuh waktu untuk menyembuhkanku. Biarlah sementara ini kutenangkan diriku.

Jason setuju. Dia juga amat baik padaku. Jujurnya, walaupun aku tengah stres berat, dia juga tidak memaksaku atau memaksakan kehendaknya bahkan dia menerimaku apa adanya. Terima kasih, Tuhan buat pria seperti Jason yang Kauhadirkan sebagai kekasihku. Dengan restu seluruh keluarga dan Jason, kutinggalkan Jakarta di hari Sabtu malam. Menuju Ho Chi Minh City, kota yang tak pernah kukunjungi sebelumnya. Mudah-mudahan di sana aku bisa lebih rileks.

***

Bandara Internasional Than Son Nhat-Ho Chi Minh City (HCMC)Vietnam.

Negara yang menjadi tujuan banyak orang Indonesia akhir-akhir ini karena kemudahan akses lewat Air Asia, akhirnya berhasil juga kukunjungi. Tak pernah terpikir sebetulnya kalau aku memiliki kesempatan ini. Satu sisi, aku berterima kasih atas seluruh kejadian di hidupku yang memungkinkan aku menikmati perjalanan ini. Walaupun di lain pihak, aku kembali sadar kalau aku perlu waktu untuk kembali seperti sedia kala.

Vietnam di malam hari. Pesawat terlambat ‘landing’ dari jadwalnya sekitar satu jam. Dikarenakan ‘delay’ menunggu pesawat ini tiba di Jakarta tadi.

HCMC mengingatkanku sedikit pada pelosok kota Bandung atau kota kecil di Indonesia. Bukan karena kecilnya, namun karena kesederhanaannya. Motor-motor bersliweran tak tentu arah. Lebih tidak disiplin dibandingkan Indonesia. Tante Fifi sedari tadi begitu hangat menyambutku. Dia terus menceritakan kehidupannya selama lima tahun di HCMC. Dan Oom Han, suaminya, sesekali menimpalinya. Kurasakan sedikit penghiburan, melihat kota yang berbeda dengan Jakarta. Dan berharap, semoga dalam dua puluh hariku di sini, bisa kudapatkan sesuatu.

Ho Chi Minh City, aku senang ada di sini! Ujarku dalam hati…

***

Susi membaca surat Willem sebelum bunuh diri dengan haru. Barusan Mama Willem memberikannya kepadanya:

“ Sus, kalau saja kautahu… Ketika kaupergi, membuatku sedih dan putus asa. Aku merasa tak sanggup lagi hidup tanpamu. Kini aku sadar, bahwa engkaulah harapan hidupku. Bukan lagi Vita seperti waktu kita pertama bertemu. Hidupku tak ada artinya lagi tanpamu. Aku lebih baik mati daripada ditinggal dirimu.

Apa pun yang terjadi, Susi… I Love You!”

Willem.

Susi mengusap air matanya perlahan. Akhirnya, ada seorang pria yang betul-betul tulus mencintainya. Bukan melulu mereka yang membombardirnya dengan hadiah demi alasan-alasan tertentu misalnya untuk menikmati kecantikannya. Tetapi, Willem tidak. Dengan seluruh paket yang ada di diri Willem, ketampanan-kekayaannya, dan terutama cintanya pada Susi… Membuat Susi tak lagi berpikir soal Jason kecuali untuk mengacaukan hubungannya dengan Vita, tanpa maksud untuk memilikinya lagi. Karena dia tak ingin mereka bahagia. Namun, dia juga tak hendak memiliki Jason lagi. Willem yang utama dan terutama untuk saat ini.

Dia masuk kembali ke kamar rawat Willem. Willem sedang tertidur pulas sekali. Tampak tak berdosa bak seorang bayi. Susi berbisik:

“ Aku mau kaunikahi, Will. Maukah kamu menikahiku?”

Willem mengangguk, lalu tertidur lagi. Entah anggukan untuk apa itu, tetapi tiba-tiba Susi betul-betul merasakan keinginan yang kuat untuk bersama Willem. Mereka harus segera menikah! SECEPATNYA!

Bersambung…

HCMC, 7 Juni 2010

-fon-

sumber gambar:

http://3.bp.blogspot.com/_6X61jPk8PYg/TAX5QBH_wxI/AAAAAAAAAhY/l0aio9dvEx4/s1600/Thank+God+I+found+You.jpg

2 comments:

  1. gile si Susi jatuh cinta juga akhirnya gile gile gile !

    ReplyDelete
  2. Bren, Susi juga manusia...Bisa jatuh cintrong wkwkwk:)

    ReplyDelete