Tuesday, June 15, 2010

Thank God I Found You Part 13



*** Episode: A Nightmare in Paris

Previously on Thank God I Found You part 12 (Episode: Happily Ever After?)

Liburan Vita telah usai, perjalanan ke Ho Chi Minh membuahkan kekuatan baru untuk berjalan dalam ketenangan dan suka cita. Sementara Willem dan Susi menikah. Dengan semua yang terbaik yang bisa didapatkan mereka. Pesta di Hotel Mulia, penyanyi istimewa sampai Siti Nurhaliza, gaun dari Vera Wang-The Link di Paragon, EO, dan terakhir bulan madu mewah nan romantis di Paris dan Venice. Namun, ternyata semua yang sempurna itu berubah menjadi mimpi buruk, ketika di Four Season Hotel George V Paris Willem ternyata menderita gangguan jiwa. Dia hendak menyerang Susi secara tiba-tiba. Bagaimanakah kelanjutan ceritanya? Simak di episode berikut ini…

Episode: A Nightmare in Paris

Four Season Hotel George V- Paris. Presidential Suite.

Tangan kiri Willem masih melingkar di leher Susi, bukan dalam posisi yang romantis yang seharusnya dinikmati saat bulan madu. Bukan! Sementara tangan kanannya malah mengacungkan garpu itu sekali lagi ke wajah Susi.

“ Jangan kaucoba untuk lari dariku. Apalagi kaucoba untuk main gila dengan pria-pria itu. Aku tahu, sebetulnya kau masih cinta pada Jason, bukan? Belum lagi pria-pria lain yang mengejarmu itu. Dulu selalu kauladeni agar kau selalu dapat perhatian dan hadiah mereka. Sekarang, jangan lagi kaucoba untuk lakukan itu. Karena kau hanya milikku.” Willem bicara mendesis sambil berbisik di telinga Susi.

Susi hanya menangis. Belum mampu menjawab karena siapa sangka cerita cinta yang begitu indah yang dikira akan dijalaninya ketika dia memutuskan untuk berlabuh bersama Willem ternyata malah berakhir begini. Dia masih gelisah, namun satu sisi otaknya yang lihai terus berpikir bagaimana caranya supaya Willem tenang dan membebaskan dirinya.

“ Will, itu dulu, sebelum aku jumpa dirimu. Itu saat aku belum mengenal arti cinta sejati seperti yang kudapatkan dari dirimu.” Jawab Susi perlahan. Air mata sudah tidak lagi membasahi pipinya, namun sisa tangisan membuat suaranya sedikit bergetar.

Willem mulai melemah, melonggarkan garpu itu dari genggamannya dan garpu itu terjatuh. Willem lalu menangis. Sesenggukan. Tanpa diketahui apa sebabnya. Mungkin terharu, mungkin juga emosinya yang labil telah membuatnya demikian. Dalam isakannya, Susi memeluknya. Menenangkannya. Bagaikan anak kecil yang menuruti ibunya, Willem pun melakukan hal yang sama. Dia ikut Susi dan duduk di tempat tidur. Susi memberinya minuman. Tak lama Susi menyodorkannya obat penenang. Bagai kerbau dicucuk hidungnya, Willem juga ikut saja. Perubahan yang amat drastis terjadi dari sikapnya beberapa menit sebelumnya. Akhirnya dalam ketenangan luar biasa, Willem tertidur. Susi pun bernafas lega. Dia memberikan dosis sedikit lebih banyak dari yang seharusnya diminum Willem, tetapi tidak sampai overdosis. Cukuplah membuatnya tidur sekitar lima sampai enam jam. Sementara Susi yang dilanda kecemasan tadi akan memanfaatkan kesempatan ini untuk lari. Lari dari Willem dan menuju airport. Dia tak lagi hendak mempertaruhkan nyawanya tinggal bersama orang seperti Willem. Sementara nasib Willem? Entahlah… Cintanya tiba-tiba berkurang jauh…Teramat jauh…

***

Aku masih sering memikirkan Santi. Tidak sesering dulu, tetapi kalau boleh dibilang tiap malam dia masih ada di pikiranku. Setahun lebih sudah berlalu. Aku selalu mendoakannya setiap malam, aku masih terus berharap ketenangan itu sudah didapatkannya. Mungkin dia sudah, aku yang belum…Aku masih berusaha bertahan dalam setiap kondisi yang kulalui walaupun tidak mudah. Tak pernah mudah ketika kau kehilangan seorang sahabat sejiwa, bukan? Yang seolah tahu apa yang ingin kauutarakan tanpa perlu kauucapkan? Yah, aku kehilangan salah satu permata kehidupanku…Santi, aku terus merindukanmu.

Jason masih saja setia, baik. Umurku pun sudah mendekati empat puluh tahun. Usia yang tidak muda lagi untuk seorang wanita dan seharusnya sudah memiliki beberapa anak, tetapi bukankah jalan setiap orang berbeda? Entah mengapa, aku masih betah juga begini. Mungkin karena rasa sepi itu tak begitu terasa karena ada Jason? Tetapi Jason pun sudah hampir berumur empat puluh juga. Dua bulan lagi, ulang tahunnya yang ke-40. Kami memang berbeda enam bulan saja, Jason lebih tua. Aku pun memikirkan kado apa yang ingin kuhadiahkan buat Jason? Dia bukan tipe yang suka merek-merek mahal, dia bukan tipe yang akan menghamburkan uangnya dengan pesta atau traktiran di hotel mewah. Apa ya? Aku masih terus berpikir, sampai terlintas ide itu. Aku akan membawa Jason ke salah satu panti asuhan tak jauh dari rumahku. Di sana, aku akan membuat pesta kejutan buat Jason. Pesta sederhana, mungkin hanya dengan nasi kotak isi ayam goreng, sambal kentang, dan agar-agar. Yang pasti, kusiapkan bingkisan sederhana saja. Bergegas mulai kusiapkan semuanya dan kuhubungi Panti Asuhan Kasih di Gang tak jauh dari rumahku ini… Semoga ini bisa memberi arti…

***

Willem bangun ketika jam menunjukkan pukul 19.00 waktu Paris. Kepalanya pusing. Pandangannya berkunang-kunang. Di mana Susi? Koq tidak kelihatan. Perlahan dia memandangi sekelilingnya. Mengapa jadi sepi begini?

“ SUSIIII!” Teriaknya.

Tidak ada jawaban…Satu kali, dua kali masih tidak ada jawaban juga. Akhirnya dengan putus asa, dia mengambil pisau buah yang terletak di meja makan dan mulai melakukan aksinya. Bukan bunuh diri! Tetapi menancapkan pisau itu berkali-kali ke sofa, tempat tidur, bantal dan guling. Setelah puas, dia tertawa tanpa henti. Tak lama pintu bel berbunyi. Willem tak mau membukanya. Tak mungkin ia perlihatkan kamarnya dengan kondisi begini. Tetapi, bagaimana kalau itu Susi? Bergegas dibukanya pintu tersebut dan petugas keamanan hotel datang diiringi dua orang polisi.

You are under arrest. You have the right to remain silent… bla bla bla…” Tak lagi terdengar apa yang diucapkan polisi itu di telinganya.

Yang pasti, tawanya membelah suasana kamar. Ketika diborgol pun ia masih cekikikan sendiri, lalu menangis dan berteriak lagi…

“ Susiii, mengapa kau tinggalkan aku sendiri?”

bersambung…

HCMC, 15 Juni 2010

-fon-

Sumber gambar:

http://1.bp.blogspot.com/_6X61jPk8PYg/TBB4SeBNzTI/AAAAAAAAAiY/QGt70UgCedg/s1600/Thank+God+I+found+You.jpg

No comments:

Post a Comment