Wednesday, June 9, 2010

Thank God I Found You Part 12



*** Episode: Happily Ever After?

Previously on Thank God I Found You part 11 (Episode: The Changes)

Perubahan demi perubahan terjadi. Santi meninggal, sehingga Vita tak lagi merasakan semangat dalam hidupnya. Kehilangan sobat baik di depan matanya sendiri bukanlah hal yang mudah untuk dihadapi. Dia memutuskan untuk pergi, cuti dari pekerjaannya dan berangkat ke Ho Chi Minh City. Di sana, dia akan bertemu Tante Fifi sobat Mamanya yang sudah seperti keluarganya sendiri. Jason yang berbesar hati menerima semua perubahan ini, tak juga memaksanya. Merelakan Vita pergi ke Vietnam. Sementara Susi juga mengalami perubahan. Dia merasakan cintanya yang besar pada Willem yang mendorongnya untuk kembali ke Jakarta bahkan dia berniat untuk dinikahi Willem. Bagaimanakah kelanjutan kisahnya?Simak di TGIFY berikut ini…

Episode: Happily Ever After?

Aku memandang ke luar lewat jendela apartemen Tante Fifi yang terletak di kawasan Phu My Hung di HCMC ini. Pemandangan indah seolah di Singapura saja. Tak seperti jalanan Vietnam pada umumnya yang banyak motor, padat, dan tidak rapi. Di sini, kudapati keindahan tersendiri. Ketenangan meliputi hatiku. Apalagi ternyata Tante Fifi juga seorang aktivis yang giat memperjuangkan anak-anak yang terkena AIDS. Dia hampir setiap hari mendatangi panti perawatan anak-anak yang kena AIDS ini. Aku sering ikut serta dan di sinilah kutemukan semangat baru kembali. Banyak orang yang berjuang untuk terus hidup walaupun dilanda kesakitan dan penyakit yang berat seperti AIDS itu tadi, sementara diriku yang masih hidup dan sehat mengapa seolah serasa mati semangat…? Di sini, kutemukan kekuatan baru. Di sini, aku merasa mampu bangkit dan berdiri tegar kembali. Di sisi Jason tentunya. Tidak, aku belum hendak memikirkan pernikahan. Karena aku masih rasanya belum siap. Aku butuh waktu setidaknya satu sampai dua tahun ke depan, untuk kemudian merenda masa depanku dengan Jason. Sementara, biar kulalui hidupku dengan tenang dan penuh suka cita.

Hari-hari di HCMC juga diisi wisata kuliner, mencicipi aneka masakan Vietnam terkadang Jepang dan Korea juga. Juga wisata ke daerah tujuan wisata di sini. Saigon Notre Dame Basilica, City Post Office, Reunification Palace, Pasar Ben Thanh, daerah Chinatown… Semua berlangsung cepat. Tak terasa dua puluh hari pun tiba. Dengan janji pada Tante Fifi, kalau suatu saat aku akan kembali mampir di HCMC, aku pulang… Menemui Jason, kembali ke aktivitasku, dan bercengkerama dengan keluargaku tercinta…

***

Hari-hari yang menyenangkan. Ketika menemukan seorang yang kaucinta dan mencintaimu dengan api asmara yang sama hangatnya. Panas, membara, sekaligus meluluhkan. Itu yang dirasakan Susi. Dia begitu bahagia dalam persiapan perkawinannya dengan Willem. Semua sudah diatur rapi, pakai EO donk. Hotel mewah dan bulan madu romantis bernilai ratusan juta rupiah? Pastinya… Bagi Susi dan Willem, uang bukanlah masalah. Mama Willem juga Papanya menyambut dengan gembira. Mendapatkan seorang menantu cantik yang tak kalah bila disandingkan dengan selebriti, memberikan kebangaan tersendiri. Apalagi menantunya ini orang kaya, harta mereka aman…Bahkan semakin bertambah jika kedua belah keluarga menyatu dalam bisnis-bisnis berikutnya. Sinergi? Tentu saja itu pun ada di pikiran mereka.

Willem sendiri semakin sehat, hampir pulih seperti sedia kala. Kembalinya semangat hidup, kembalinya Susi dalam hidupnya merupakan obat yang lebih manjur daripada puluhan bahkan ratusan obat penenang yang sudah mampir ke perutnya.

Hotel, dipilih Hotel Mulia di Senayan. Pernikahan dengan tema minimalis ini bakal menghadirkan artis-artis papan atas Indonesia guna menghidupkan suasana. Bahkan, Mama Willem ngotot mengundang Siti Nurhaliza walaupun dengan bayaran mahal tak terhingga demi acara ini. Mulai dari MC, band dan orkestra, semua dipilih yang ternama. Wajah-wajah rupawan yang sering menghiasi layar kaca semua ada. Ini akan jadi pesta yang tak terlupakan seumur hidup orang-orang yang menghadirinya…

Susi sendiri sibuk bolak-balik ke Singapura ditemani Willem tentunya. Urusan ‘wedding dress’ dia percayakan kepada perancang ternama kelas dunia, Vera Wang yang butiknya bisa dia temukan dengan mudah di Paragon. Perasaan nyaman di dirinya karena buat pernikahan ini budgetnya ‘unlimited’, tanpa batas. Dia mau apa saja, bisa.

Paket bulan madu ke Eropa pun sudah disiapkan. Pastinya Willem dan Susi akan mengelilingi beberapa kota romantis, terutama Paris dan Venice---naik gondola di sana dengan yang dicinta akan terasa berbeda…

Susi tak sabar menantikan hari-hari indah yang akan menghiasi hidupnya. Tak lagi diingatnya bayangan Jason dan Vita. Tidak sempat! Dia terlalu sibuk dan terlalu bahagia dengan ini semua!

The Wedding…

Acara pernikahan sedang berlangsung. Nuansa warna ‘pink’ muda yang elegan, bercampur dengan warna putih dan biru muda mencerahkan suasana hotel. Tamu penuh, diperkirakan ada sekitar 2000 orang. Susi tersenyum bahagia menyambut setiap tamu yang menyalaminya. Willem? Dia juga tak kalah senangnya. Tertawa terbahak-bahak pada orang-orang yang menggodanya. Bagus menunggu sekian lama kalau dapatnya seorang bidadari jelita. Dia tersenyum bangga! Susi memang amat sempurna:)

Lagu-lagu romantis bergema. Mulai dari Elfa’s Singers, Ruth Sahanaya, Siti Nurhaliza, secara bergantian memenuhi panggung itu. Musik orkestra pun mengalun pelan, menambah indahnya suasana. Sedangkan makanan berlimpah ruah. Bebek Peking, sate, ‘cake’, sampai buah-buahan lengkap semua. Sungguh pesta yang sempurna bagi mereka.

Papa dan Mama Willem berwajah ceria. Mama Willem yang memakai gaun berwarna biru laut dengan manik-manik Swarovski di sekeliling gaunnya memang masih terlihat cantik. Dia pandai merawat tubuh dan wajahnya sehingga masih tidak kalah bersaing dengan selebriti juga. Sementara keluarga Susi pun terlihat bahagia: Papa dan Tante Reni bernafas lega juga karena akhirnya Susi menikah dengan orang yang dicintainya.

Sempurna. Apa lagi yang diinginkan dalam hidup seorang wanita? Bagi Susi, semua sudah didapatkannya….

***

Pesawat yang Willem dan Susi tumpangi baru saja mendarat di Charles de Gaulle International Airport Paris. Bulan madu ini begitu indah dan selama perjalanan mereka saling bergengaman tangan. Susi sampai mencubit dirinya sendiri, seolah tak percaya. Tapi, ini memang nyata!

Perlahan taksi membawa mereka ke hotel mewah ‘Four Season Hotel George V- Paris’ yang terletak di 31, avenue George V. Ini memang salah satu hotel yang mewah di sini. Mereka telah memesan ‘presidential suite’ yang mewah dan indah luar biasa. Bak dalam mimpi, semua mereka jalani dengan bahagia. Senyum tak pernah lepas dari bibir mereka.

Ini pasti akan jadi bulan madu penuh kebahagiaan buat mereka. Makan malam, jalan-jalan ke Eiffel, dan belanja tentu saja! Sudah masuk daftar kegiatan mereka. Sisanya, tak usah ke luar dari kamar terlalu banyak pun tak mengapa karena kamar mereka bak istana…

***

Susi masih mengenakan kimono kamar yang disediakan hotel ini. Kimono berbahan handuk, putih bersih dan terbuat dari bahan yang mahal. Seperti biasa, ritual kebersihan pun dilakukannya. Willem pun sudah mulai terbiasa, karena waktu mereka bolak-balik Singapura, Willem pun sudah melihat kebiasaan Susi, istrinya yang cantik itu.

Mereka bersiap-siap untuk tour setengah hari di kota ini. Tak mau terlalu lelah, mereka memilih yang santai-santai saja. Tokh waktu mereka di Paris ada sekitar lima harian sebelum melanjutkan perjalanan ke Venisia.

Sarapan pagi diantar ke suite mereka. Susi sudah makan, setelah itu dia mempersiapkan dirinya. Sementara Willem pun menyelesaikan makannya dengan lahap. Sarapan setelah menikah dengan orang yang dicinta memang beda rasanya:)

Tiga puluh menit kemudian.

Susi pun sudah selesai berdandan. Dia bersiap mengejutkan Willem saat hendak mengambil pakaian di lemari. Willem yang ada memegang pisau dan garpu makannya, menatapnya nanar. Lalu berteriak kencang:

“ Jangan kaucoba ambil Susi dariku. Dia hanyalah milikku! Dan Susi, sini kamu! Kamu harus selalu bersamaku. Dari mana saja, kamu? Koq pergi tidak bilang-bilang…!” Masih berteriak emosi, Willem mengacungkan garpunya.

“ Aku kan di toilet, Will, sedang berdandan,” jawab Susi pelan.

“ Ah, bohong kamu, Sus! Paling kamu mau pergi lagi, ya? Sama pria-pria yang suka dan ngefans sama kamu itu!” Teriak Willem lagi.

“ Will, mana mungkin aku pergi dengan mereka? Aku dan kamu sekarang ada di mana? Di Paris, Will! Perancis!” Susi pun mulai emosi juga.

“ Memangnya mereka tak bisa ikut kita ke sini? Aku merasa mereka terus mengintai kita, aku merasa mereka terus memata-matai kita. Mereka tak ingin kita bahagia. Mereka ingin mengambilmu dari sisiku. Mereka ingin menjatuhkan kita ke lubang derita. Aku tak mau…Aku tak mauuuu!!!” Teriak Willem makin histeris.

Susi kebingungan, satu sisi tak mampu melawan kekuatan Willem yang lebih besar dan lebih kuat darinya. Seketika dia menelepon resepsionis, minta pertolongan.

Tetapi tangan Willem lebih cepat menyambarnya dan mengacungkan garpu itu ke dekat wajahnya.

“ Jangan coba-coba kauhubungi pria-pria itu. Takkan kuberi kesempatan barang sedetik pun!”

Susi mulai menangis. Willem, apa yang terjadi? Mengapa kau jadi begini???

Bersambung…

HCMC,10 Juni 2010

-fon-

Sumber gambar:

http://3.bp.blogspot.com/_6X61jPk8PYg/TAX5QBH_wxI/AAAAAAAAAhY/l0aio9dvEx4/s1600/Thank+God+I+found+You.jpg

No comments:

Post a Comment