Monday, June 21, 2010

Tembang Sunyi



*** cerpen

Duduk termenung, dalam diam. Mendengarkan alunan lagunya dalam hatiku, walaupun kutahu yang dominan adalah kesunyian dalam jiwaku. Sejak Didik pergi untuk selamanya dari hidupku, yang kulagukan hanya tembang sunyi. Tak ada lagi ceria, tak ada lagi senyuman sumringah. Ya, aku berduka. Tetesan air mataku bila kukumpulkan takkan mampu ditampung oleh galonan air mineral. Sudah letih, teramat lelah aku menangisi dan menyesali semuanya.

Didik --- suamiku itu--- kujumpai di saat kami sama-sama ikut satu seminar yang diselenggarakan tempat kami bekerja. Kami dikirim perusahaan kami untuk menghadiri seminar tentang manajemen selama tiga hari. Aku dan Didik sekelompok waktu itu. Herannya, aku juga langsung merasa cocok dengannya. Tidak berpikir panjang, hanya ingin bersahabat dengan dirinya yang ramah dan baik hati. Tiap kali dia berkomentar, tak pernah terkesan sombong. Walaupun di sana kami sama-sama tahu posisi dan jabatan setiap orang karena saling bertukar kartu nama. Bahkan di nama yang ada di meja kami, yang terbuat dari kertas karton warna putih, selalu menuliskan: nama, jabatan, dan gelar pendidikan. Didik yang banyak gelar itu, tak pernah merasa sombong. Untuk ukuran orang yang sepintar dia, dia amat rendah hati. Aku? Oh, aku sendiri hanya anak baru di perusahaanku yang kebetulan kena ciprat rezeki ketika boss-ku yang seharusnya menghadiri seminar itu membatalkannya di saat-saat terakhir, karena dia diminta datang ke kantor pusat kami di Singapura. Jadinya, daripada sayang tak terpakai, aku yang disuruh ikut karena perusahaan sudah membayar cukup mahal untuk acara-acara seminar semacam itu.

Seminar dilangsungkan di Hotel berbintang di kawasan Sudirman. Tak jauh dari Bundaran HI. Aku bahagia, sekaligus senang. Karena seminar-seminar semacam ini, bukan saja bermutu tetapi juga memberikanku peluang untuk bertemu banyak orang yang kupikir jauh lebih hebat ketimbang seseorang yang baru menapaki karier sepertiku. Di situ, senang itu berlanjut, ketika aku benar-benar jatuh cinta pada Didik. Maksudku, cinta yang aku tak tahu akankah mengembangkan sayapnya atau tidak. Mungkin lebih tepatnya ketertarikan luar biasa akan dirinya. Dengan posisinya, wajahnya dan kerendahan-hatinya, rasanya tak mungkin dia tak punya pacar. Seharusnya malah dia sudah menikah dan punya anak. Biasanya begitu bukan? Pria-pria yang disebut dengan istilah ‘eligible bachelor’ biasanya sudah ‘taken’ atau sudah dimiliki oleh para wanita yang beruntung menjadi istrinya.

Kupendam perasaanku. Hanya Tuhan yang tahu. Tapi, aku cukup puas hanya dapat nomor telepon kantornya dan emailnya. Cukup. Itu saja. Jangan biarkan rasa ini berkembang, Tuhan. Kalau dia takkan mungkin jadi milikku….

Seminggu sesudah seminar itu.

Pagi itu, aku mendapatkan email pertama darinya.

Subject: Hi.

Sender: Didik Martin Sudarmanto.

Dengan gugup, setengah bahagia, kubuka surat elektronik itu.

Hai, Julie, apa kabar?

Bagaimana dengan acara temu kangen Sabtu ini. Apa kamu ikutan?

Ikut yuk, kita ketemuan di sana sambil cerita-cerita.

Salam hangat,

Didik.

Kukucek mataku. Tiga kali. Tak percaya ini terjadi. Bahagia, berbunga-bunga, semua jadi satu. Ah, tapi…Masih terlalu pagi untuk memikirkan hubungan ini akan berkembang jauh. Dia memang ramah dan bersahabat. Jangan-jangan kepada semua teman, dia juga kirim message yang sama. Kucoba menenangkan pikiranku. Jangan ge-er dulu, nanti malu sendiri…! Julie, Julie… Mbok ya sadar diri… Membumi … Kembali berpijak di lantai dan dilarang melayang-layang ke ruang angkasa tak tentu arah.Padahal balon udara warna-warni sudah membawaku terbang tinggi ke awan biru. Mudah-mudahan aku bisa tetap sadar dan realistis. Tapiii, alangkah sulitnya! Aku rasa aku tengah dimabuk asmara….:)

Sabtu tiba. Kami bertemu. Lagi.

Suasana santai dan ceria berbaur dengan keakraban yang tercipta. Tidak banyak yang bertemu muka. Maksudku, tidak semua peserta seminar itu. Tetapi, sekitar sepuluh orang ini adalah orang-orang yang ceria dan ‘rame’. Suasana semakin hidup. Dari makan siang, kami lanjut nonton bioskop. Setelahnya, masih lanjut minum kopi. Nggak pulang-pulang. Betah? Aku sih IYA! Dan Didik juga ramah betul. Ehm, harusnya kupanggil dia Mas Didik atau Pak Didik, karena umur kami terpaut sepuluh tahun lebih. Tetapi, aku tidak melakukannya. Dia sendiri yang melarangku karena tak mau terlihat terlalu tua katanya. Diam-diam, aku mencatat senyum dan tatap matanya yang sedikit berbeda ketika menatapku. Aku menikmatinya. Aku tak tahu harus bagaimana. Yang pasti aku senang karena Didik masih seorang diri saja, begitu pengakuannya.

Setahun kemudian.

Didik resmi meminangku. Kami akan menikah tiga bulan kemudian. Didik sampai saat itu terus konsisten dengan cinta dan perhatiannya padaku. Dia selama ini memiliki trauma. Sempat bertunangan dan tunangannya meninggal ketika berlibur ke Eropa. Sekeluarga meninggal semua. Didik shock dan panik, tak tahu harus bagaimana. Setelah itu, hidupnya diisi kerja, sekolah, kuliah, seminar, dan sejenisnya. Tetap ramah pada semua orang, tetapi menutup hatinya buat urusan cinta. Entah mengapa katanya ketika dia jumpa denganku, dia tak lagi kuasa lakukan hal itu. Setelah tiga tahun dia berduka dan menutup dirinya, katanya dia merasa melihat keajaiban cinta ketika dia berjumpa denganku. Ah, bahagianya… Ternyata gayung bersambut jua, aku tak bertepuk sebelah tangan:)

Didik. Ya, aku bangga jadi istrinya. Dengan seluruh atribut yang ada pada dirinya, Aku bahagia. Dengan seluruh kebaikan hatinya, aku bersyukur tanpa henti kepada Sang Pencipta untuk kesempatan menikmati hari-hari bahagia bersamanya. Pernikahan kami menyenangkan untuk dijalani. Dengan segala perbedaan, dengan percekcokan mengenai hal-hal yang ringan semisal memencet odol sampai mengatur meja makan. Itu semua mewarnai kehidupan baru yang tengah kami arungi.

Pagi itu setelah genap setahun pernikahan kami.

Hari itu entah kenapa dia tak mau makan. Wajahnya kuyu, agak pucat. Kutawarkan sarapan apa pun, dia menolak. Dia tak mau. Nanti saja di kantor begitu ujarnya. Aku masih berusaha memberikan sebungkus sereal rasa cokelat untuk persiapan dia seandainya lapar di kantor. Dia masih bungkam. Tanpa suara. Kutanya kenapa, dia juga tak menjawabnya. Hanya bilang: “ Gak pa-pa.”

Hari itu adalah hari yang paling tak mengenakkan setelah kami mengarungi bahtera rumah tangga ini selama setahun. Dia diam seribu bahasa, meninggalkan aku dalam kebingungan. Pak Sabar, Sopir pribadinya tak juga diajaknya bicara banyak seperti biasa. Dia masih diam. Mengantarku ke kantor, melambaikan tangan, lalu menuju kantornya seperti biasa.

Pagi itu pagi terakhir kami bersama. Karena siangnya, dia sakit. Parah. Dan langsung masuk ke Rumah Sakit. Stroke itu sudah merenggut nyawanya. Dia tak pernah bilang kalau dia ada kelainan jantung bawaan dari kecil. Didik pergi untuk selamanya, di usianya yang ke-45.

Saat dia pergi, aku menangis, meraung. Merasa hidup tak adil. Mengapa baru sebentar kukecap nikmatnya kehidupan berumah tangga bersama seorang suami seperti Didik, lalu semua itu direnggut dari hidupku? Mengapa???

Setelah itu aku banyak diam. Bengong. Merenung. Menangis. Diam lagi. Tidur lalu terbangun dalam kepiluan luar biasa. Perlahan, kubuka foto-foto pernikahan kami yang tertata rapi di album hasil jepretan fotografer ternama di ibukota. Foto-foto kami di Pulau Bali dengan romantisme yang menyelimuti hati kami. Masih terlalu pagi untuk ucapkan selamat tinggal. Apalagi, tanpa setahu Didik, diam-diam aku sudah hamil. Malam itu aku berencana memberitahukannya. Sebetulnya dari pagi, aku sudah tak sabar ingin memberitahukannya. Tapi, apa boleh buat, ketika kulihat raut wajahnya yang sedih-pucat dan seolah menahan sakit, aku menahan diriku untuk bercerita. Nanti malam saja ujarku. Ternyata, malam itu dia sudah harus bersemayam di rumah duka. Dalam jeritan tangisku, kukatakan: “ Bagaimana anak kita nanti, Dik? Dia takkan pernah lihat wajah Papanya???”

Didik terbaring dalam senyuman. Dalam pucatnya wajahnya, dalam balutan jas yang dipakainya saat hari pernikahan kami. Saat dia masuk ke liang kubur, aku pingsan. Tak kuasa menyaksikan pemandangan itu. Terlalu cepat, Tuhan, segala sesuatunya kaurenggut dari sisiku. Sejujurnya, aku belum siap…

Sebulan sesudah meninggalnya Didik.

Aku tinggal di rumah orang tuaku lagi. Karena orang tua Didik jauh di Semarang sana, sementara aku dan pekerjaanku di Jakarta jadi aku pun tak bisa pindah begitu saja. Perlahan, aku menapaki hari-hari sepiku tanpa dirinya. Tembang itu masih bergema di jiwaku. Tembang sepi. Bisu. Karena aku terus mengheningkan cipta dan seolah seisi bumi mati rasa saat Didik pergi tinggalkan aku.

Kehamilanku berjalan lancar, walaupun aku mengalami ‘morning sickness’ berupa muntah-muntah di pagi hari. Oh iya, aku juga ngidam. Ngidamnya makan buah mangga melulu. Setiap hari. Aku mencoba datang kembali ke rumah yang kami diami. Rumah kecil, tetapi asri bergaya minimalis. Berwarna putih bersih, kesukaan Didik. Perlahan aku mencoba membereskan baju-bajunya yang tidak lagi terpakai. Berpikir akan menyimpan beberapa yang terbaik saja, sambil menyumbangkan sisanya. Karena terlalu banyak juga rasanya buat apa dan aku juga tak ingin memandangi itu semua sebagai gundukan kenangan yang terus semakin tinggi serta membuat perih itu tak sembuh-sembuh. Aku juga tak bisa membayangkan sebetulnya, bagaimana kehidupan anakku nantinya? Kondisi perekonomianku, tak lagi kutakutkan. Karena sementara ini aku lebih dari cukup. Didik meninggalkan warisan yang banyak bagiku dan bagi orang tuanya. Secara adil, dia sudah memikirkan itu semua. Hartanya dia bagi dua. Bagiku-anak kami, dan orang tuanya. Tentunya yang harus kulakukan adalah mempergunakannya dengan bijaksana demi anak kami.

Aku menghela nafas. Panjang. Tak pernah kusangka, di usiaku yang ke-32, aku jadi janda. Memang bukan janda yang dicerai suaminya, namun karena keadaan yang memaksaku berpisah dengannya. Cerai mati, mungkin di mata masyarakat lebih terkesan mulia. Tapi, dalam keheningan yang tercipta, dalam kebisuan yang tak jua alunkan nada ceria, hanya hatiku yang tahu persis bahwa ini pun teramat sulit untuk dijalani.

Kembali ke rumah kami adalah hal yang amat sulit. Aku selalu datang bersama ibuku. Karena kalau tidak, aku pasti bisa pingsan sementara aku sendirian. Seluruh kenangan itu terlalu emosional, terpatri jelas di pelupuk mataku. Meja makan itu, tempat kami makan bersama setiap pagi dan malam. Ranjang itu, kami pilih bersama, seprai itu aku yang memilihnya. Sepatu Didik, aku yang menghadiahkannya ketika dia ulang tahun. Setiap hari dipakainya. Ini baru setahun pernikahan, bagaimana dengan mereka yang menikah empat puluh tahun, kemudian harus terpisahkan jua?

Setahun setelah Didik pergi.

Martina Jelita Sudarmanto lahir ke dunia. 23 April 2009. Dengan berat badan 3.1kg, panjang 50 cm. Keharuan meliputi hatiku. Sekaligus kesedihan juga melandaku.

Julie, kuatkan hatimu!

Martina, mengambil nama tengah Papanya. Martin. Martina tak pernah melihat wajah Papanya, namun ketika dia besar nanti….Saat dia lebih mengerti, aku ingin memberitahukannya bahwa Papanya adalah orang yang baik dan bertanggung jawab. Sayang keluarga, ramah dan rendah hati. Itu adalah warisan yang Didik titipkan kepadaku dan akan kuteruskan kepada Martina sebagai berkat tak ternilai. Aku bangga punya suami seperti Didik. Dengan segala keterbatasannya, tetapi dia tetap punya cinta yang takkan lekang dimakan waktu, sampai kapan pun aku tetap cinta Didik.

Aku bertekad membesarkan putriku sendiri. Bukan tugas yang ringan, di antara semua omongan tetangga, lirikan sinis para istri yang berpikir aku adalah ancaman. Karena posisi janda tak pernah mendapat tempat yang mulia di masyarakat. Tapi, sampai hari ini, aku tetap tak bergeming….Walaupun ada beberapa pria yang menawarkan cinta. Aku tetap mau setia. Entah sampai kapan. Mungkin sampai selamanya? Setidaknya sampai hari ini, aku tetap tak bergeming karena itu semua bagiku tak sepenting tugas membesarkan buah cinta kami- Martina.

Tangisan sudah jadi bagian hidupku beberapa tahun belakangan ini. Tetapi, ketika Martina datang, aku sudah mulai terbiasa tersenyum lagi. Melihat cerianya, senyumnya, celotehan bayinya. Yang agak membuatku sedikit lega karena wajahnya mirip wajah Didik. 80% wajah Didik dan 20% wajahku. Kalau kangen Didik, aku hanya tinggal melihat wajahnya. Sekaligus juga merasakan perihnya dan mengakui bahwa luka kehilangan dirinya itu belum sembuh.

Dik, selamat jalan. Kau tetap bagian terindah dalam hidupku. Terima kasih buat kenangan berharga yang sangat kucinta: Martina. Sampai hari ini, aku tak henti mengucap syukur bahwa kamu masih meninggalkan sosok buah cinta ini sebagai hadiah terbesar dalam hidupku.

Aku melangkah. Menyadari bahwa tembang sunyiku tak lagi sebungkam dulu. Kini tembang itu bercampur beningnya mata Martina, lembutnya kulit bayinya, dan tembang itu tak lagi sesunyi dulu. Dia mulai terpercik rasa ceria walaupun bagian sunyi itu masih tetap ada.

Tembang sunyi tak selalu berarti duka. Setidaknya bagiku saat ini. Kesunyian itu menyiratkan semburat keceriaan yang mengetuk di pintu hatiku. Didik, sampai kapan pun, aku cinta kamu. Aku akan jaga anak kita baik-baik, demi kamu. Selamat jalan, Dik… Aku takkan pernah melupakanmu…..


Kuusap air mataku perlahan. Sedih bercampur bahagia. Ah, bukankah hidup adalah gabungan keduanya? Di hari yang sama ada yang lahir, ada yang menikah, sekaligus ada yang meninggal. Namun, hidup dan rodanya terus berputar. Aku pun mengikutinya, menjalaninya. Bersama bayang raut wajah Didik yang terus menaungiku dengan senyumnya, bersama Martina yang berkembang makin lucu hari lepas hari. Dan percaya bahwa akan kulihat lagi pelangi di hidupku yang akan menawarkan keceriaan warnanya, sehingga tembangku pun tak lagi sunyi. Ia akan berganti menjadi tembang bahagia. Semoga.

HCMC, 22 Juni 2010

-fon-

Sumber gambar:

http://www.google.com.vn/imglanding?q=tembang%20sunyi&imgurl=http://1.bp.blogspot.com/_9Bb0UoHl-BY/Sz341pjPPrI/AAAAAAAAABw/jTc7IYbcjzo/s320/02_11_08_817_-flu-1.jpg&imgrefurl=http://samudrabirucinta.blogspot.com/2010/01/pernahkah-sahabat-merasakan-rindu-rindu.html&usg=__ubV0l2z2Ly76H2R9kDHrwGjyrjA=&h=249&w=320&sz=15&hl=vi&itbs=1&tbnid=gbxxvXH6nWgdkM:&tbnh=92&tbnw=118&prev=/images%3Fq%3Dtembang%2Bsunyi%26hl%3Dvi%26gbv%3D2%26tbs%3Disch:1&gbv=2&tbs=isch:1&start=0

No comments:

Post a Comment