Monday, June 7, 2010

Mencontek



Amin, Siti, dan Ishak ketiganya merupakan anak SD kelas empat. SD Negeri 1 di kota kecil, di Sumatera bagian Utara. Pagi itu, ketiganya tertangkap basah mencontek dan akhirnya digiring ke ruang guru guna ‘disidang’ wali kelas mereka, Pak Prapto.

Pak Prapto: Siapa yang pertama kali meminta contekan dari teman kalian?

Amin: Siti, Pak.

Siti: Ishak, Pak.

Ishak: Amin, Pak.

Karena semua menjawab nama temannya, tentunya Pak Prapto malah menjadi kebingungan.

Pertanyaannya lalu diubah…

Pak Prapto: Kalau begitu, siapa yang pertama kali memberikan contekan kepada teman kalian?

Amin: Saya, Pak.

Siti: Bukan Amin. Saya, Pak.

Ishak: Bukan Siti, bukan Amin. Tetapi, SAYA, Pak!

Makin kebingungan Pak Prapto dengan segala pengakuan yang menonjolkan diri sendiri dan menyalahkan orang lain begini. Dia pun berusaha keras, memikirkan pertanyaan berikutnya…

Pak Prapto: Yang mengakui secara jujur bahwa dia mencontek akan Bapak berikan hadiah sepasang sepatu baru!

Amin, Siti, dan Ishak memandang kaki mereka yang terbungkus sepatu butut dan robek di beberapa bagian. SD Negeri ini menerima banyak anak yang tak mampu di lingkungan dekat sekolah.

Semua berlomba-lomba bilang:
” Saya, Pak!” Sambil mengacungkan jari mereka bersamaan.

Kejadian Amin, Siti, dan Ishak ini membuat Pak Prapto berpikir sekaligus sadar bahwa:

  • Dalam hidup ada banyak orang yang sering menudingkan jari telunjuknya ke orang lain, dengan mudahnya dan sebegitu cepatnya. Kebanyakan manusia ingin cari selamat sendiri, terutama berhubungan dengan masalah-masalah yang berbau korupsi, manipulasi, gosip, dan melemparkan kesalahan. Wah, manusia memang nomor satu untuk yang begini ini. Dia yang salah, kamu yang salah, bukan SAYA! Mulailah manusia berlindung di balik topeng kebaikan yang seolah miliknya…
  • Ketika ditanya tentang suatu perbuatan baik, banyak orang berusaha mengambil pujian itu bagi dirinya. Istilahnya ‘takes the credit for himself.’ Biarpun bukan dia yang lakukan, inginnya terlihat baik di muka umum, apa pun rela diakui (padahal banyak kali kebaikan itu dibuat orang lain, tapi SAYA yang pasang muka waktu terima penghargaan). Mungkin ibaratnya anak buah yang kerja setengah mati, bos yang hanya ongkang-ongkang kaki hanya bilang: itu karya SAYA lho…(Tidak semua bos begini sih, pastinya ada bos-bos yang baik juga:)). Yah, begitulah. Hidup dan kehidupan terkadang membuat orang tanpa peduli mengambil pujian yang bukan haknya demi mempertahankan gengsi, reputasi, terkadang demi sesuap nasi (plus semangkuk berlian hahaha :)).
  • Banyak kali orang akan mengakui bahwa perbuatan itu dilakukannya, padahal sesungguhnya belum tentu, asalkan ada imbalan yang sesuai dengan keinginannya. Misalnya seseorang yang mengakui suatu tindak kriminal adalah perbuatannya padahal bukan dia pelakunya. Dia lalu terpaksa harus mendekam di penjara, sementara yang melakukannya bebas berkeliaran di luaran dengan kompensasi keluarganya dibiayai setiap bulannya. Masih ada saja orang-orang yang mau atau merelakan diri untuk melakukan hal-hal semacam ini.

Pak Prapto tersadar dari renungan singkatnya itu, lalu kembali berkata:

“Kalau begitu, kalau tidak ada yang mau mengaku secara jujur... Kalian semua tinggal di ruang guru sampai jam lima sore. “

(Sementara waktu baru menunjukkan pukul dua belas siang. Jadi, sementara teman-teman mereka pulang jam 2, mereka harus ‘nongkrongin’ Pak Prapto di ruang guru sampai jam lima sore).

“Ah, tidakkk…!” Keluh mereka. Amin, Siti, dan Ishak nampak gelisah.

Tapi, tak satu pun menjawab jujur sampai detik ini. Pak Prapto menunggu dan menunggu. Dia kembali ke kelas 4 mengajar murid lainnya sampai jam 2 siang. Jam 2.10, dia kembali dan mendapati ketiga muridnya berdiri kelelahan. Mereka kena setrap akibat ulah mereka.

Akhirnya, Ishak mengaku:

“ Saya yang mencontek, Pak. Saya tulis sebelumnya di meja kelas, lalu saya berikan kepada Amin dan Siti.”

Pak Prapto mengelus kepalanya perlahan:

“ Betul begitu? Bapak hanya inginkan kejujuran kalian. ”

Perlahan, Siti maju walaupun agak ragu-ragu, tetapi bicaranya cukup jelas:

“Saya yang duluan mencontek dan memberikannya pada Amin. Ishak sebetulnya tidak ikut-ikutan, Pak.”

“ Jadi, mana yang benar?” Tanya Pak Prapto.

“ Saya, Pak, “ jawab Siti lirih.

“Lalu, mengapa tadi kau mengakuinya, Ishak?” Tanya Pak Prapto lagi.

Ishak menjawab:

“Saya harus pulang, Pak. Saya tak bisa menunggu terlalu lama sampai jam lima karena Bunda menunggu saya di rumah dan saya harus bantu Bunda berjualan kue nanti sore. Kalau pengakuan ini bisa membuat saya pulang cepat, saya akan laksanakan buat menolong Bunda.”

Pak Prapto terharu, kebaikan dari hati seorang anak kecil seperti ini menggugahnya. Ada orang-orang yang mengaku walaupun bukan yang dia salah, demi orang lain dia akui dosa itu karena ada alasan tertentu di baliknya. Kali ini karena keluarganya, demi cinta pada Bundanya.

“Baiklah, kalian semua boleh pulang, dengan janji tak boleh mengulang kesalahan ini lagi. Siti dan Amin kalian harus menulis: SAYA TIDAK AKAN MENGULANGI HAL INI LAGI. Amin seratus kali. Siti dua ratus kali.

Dan Siti, kamu piket di kelas selama seminggu. Tiap pagi harus datang lebih awal dan pulang paling akhir setelah kelas bersih. Mengerti!” Kata Pak Prapto tegas.

Anak-anak itu bubar dari ruang guru. Tetapi, pelajaran kejujuran di dalamnya tetap menyala. Pelajaran dalam sekolah kehidupan pun menarik buat disimak.
Pak Prapto menghela nafas: “ Jadikan aku guru yang baik, guna membimbing akhlak mereka, Tuhan. “

HCMC, 7 Juni 2010

-fon-

sumber gambar:

http://3.bp.blogspot.com/_q5TW0DjpYlY/SbMCkBld56I/AAAAAAAAAFw/eYt_9l5Xs_c/s320/Dilarang+Mencontek.bmp

2 comments: