Monday, September 14, 2009

Rebel


Memang dia adalah pemberontak. Pemberontak sejati. Di rumahnya dia tak pernah mau mengikuti aturan yang telah ditetapkan kepadanya ataupun kepada seisi rumah. Bukan dalam hal bersih-bersih saja, karena dia akan lari entah ke mana. Namun, lebih dari itu, apa yang disuruh papa mama: sekolah, les, pilihan universitas, semua ditolaknya.
Dia tak ingin diatur. Dia ingin jadi dirinya sendiri. Walaupun itu berarti dibenci seisi rumah, dikurangi jatah uang bulanannya, sampai terakhir tidak dikirimkan kepadanya sama sekali. Hanya karena dia tak memilih menjadi dokter seperti yang diinginkan orang tuanya.
Dia tidak menyesali langkahnya. Karena dia ingin memilih jurusan bahasa, mendalami Bahasa Indonesia yang menarik hatinya.
Dia hanya ingin jadi diri sendiri.

Tidak ada yang salah dengan dirinya, ketika dia hanya ingin jadi yang terbaik dari apa yang dia bisa. Tidak ada yang salah ketika dia sungguh mengejar cita-citanya, harapan dan impiannya, yang kebetulan tidak sama – tidak sejalan – dengan orang tuanya. Tidak ada yang salah juga ketika dia memutuskan untuk menikahi seseorang yang tidak satu ras dengannya. Ketika cinta itu datang dan mengetuk, dia tidak pilih bulu, dia tidak melihat kulit kuning langsat, hitam, coklat atau putih kemerahan. Dia hanya datang dan memanah hati-hati yang terbuka untuk menerima dirinya…
Tidak ada yang salah, ketika orang tuanya menolak pilihannya, dia kawin lari. Tidak ada yang salah ketika tiga anak hasil dari perkawinan itu bermunculan satu demi satu. Dia tetap berjuang dengan keyakinannya akan hidupnya. Sampai suatu saat, si Rebel lelah. Terkapar, tersungkur, tergeletak. Dia kelelahan selalu menghadapi tantangan yang terkadang terlalu berat baginya.

Rebel menutup mata dan berdoa.
“ Tuhan, aku tak pernah minta hari-hari penuh kemudahan. Tapi, belasan tahun ini sulit kujalani. Tuhan, aku tak pernah minta kelancaran, yang aku minta Kau selalu temani. Namun, ada masa-masa di mana aku merasa kau sepertinya bersembunyi. Seolah begitu sulit mencari-Mu, seolah Kau amat sulit dipahami. Ada kalanya di mana aku tak lagi bisa berdoa, yang kulakukan hanya menangis, terkadang menyesali diri, benarkah pilihan-pilihan yang sudah kuambil? Haruskah aku mengorbankan semua keluargaku, temanku, saudaraku, hanya demi kebebasanku?
Aku lalu meragukan, apakah memang hidup bebas lepas seperti ini yang aku rindukan? Selama ini kuperjuangkan, sepertinya tanpa pamrih, hanya demi mempertahankan impian. Namun, aku keletihan. Aku merasa sendirian. Dan aku lelah, Tuhan. Aku ingin beristirahat.
Ada masanya di mana aku terlilit masalah berat, dan aku lagi-lagi menghadapinya sendirian. Suamiku sering tak berada di sisiku, dia terlalu sibuk. Ada kalanya menghadapi tiga anak seperti ini yang amat menyita perhatian, tak lagi menyisakan satu kesempatan bagi diriku untuk beristirahat. Dan aku mulai panik, aku tak lagi merasa tenang. Aku pikir, aku ingin menjauh, aku ingin pergi selamanya dari seluruh kemelut hidup ini. Kenapa kau tidak panggil saja aku, Tuhan? Aku sudah muak dengan semuanya ini?”

Rebel yang berjuang setengah mati demi kemerdekaan pribadinya, kini merasa suntuk dan ingin mati. Hal yang tak pernah terlintas dalam pikirannya sebelumnya. Rebel merasa apa yang dia perjuangkan sepertinya sia-sia. Dalam keletihan yang melanda, Rebel pasrah, dia ingin pergi, dia ingin mati…

Tiba-tiba saja ada suara dalam hatinya yang menyentakkan dia seraya berkata:
“ Apa mati akan menyelesaikan masalah? Apa kau tidak memikirkan anak-anakmu, suamimu, dan keluargamu? Apa kau tidak egois waktu berpikir bahwa pergi selamanya yang membawamu menuju sang Pencipta bisa membuatmu lebih bahagia? Bagaimana dengan mereka yang kau tinggalkan?”

Rebel pun menyesali dirinya. Menyesali mengapa sampai dia terpikir untuk mati. Karena memang segalanya terlalu berat jadinya. Karena tumpukan untuk terus melawan banyak orang yang dicintainya berbuah keletihan dan kelesuan jiwa luar biasa.

Rebel kembali berdoa:
“ Aku tak mau mati, Tuhan. Beri aku kekuatan. Kini aku mau berdamai dengan mereka yang bermusuhan denganku, sehingga pada suatu waktu nanti, ketika waktuku betul-betul tiba untuk menghadap-Mu, aku sudah siap, karena tak ada lagi dendam…”

“Ampuni dulu orang tuamu…”

Suara itu pelan, namun menusuk hatinya. Dia tahu, itu yang dia harus lakukan. Dia pun tak membenci orang tuanya, dia tak berniat untuk memusuhi mereka seumur hidupnya, biar bagaimana pun, mereka lah yang membesarkan dan melahirkan Rebel.

Rebel berjalan menuju ke rumah orang tuanya, membawa ketiga anaknya, tanpa suaminya. Papa mama Rebel tak menyambutnya, mereka menganggap Rebel sudah bukan anak mereka lagi. Cucu-cucu mereka, dua lelaki dan satu perempuan, dianggap sepi karena paduan yang tak sesuai di mata papa mama Rebel. Mata yang sipit, kulit yang hitam, rambut yang keriting, sungguh tak sedap dipandang mata. Tapi, bukankah mereka juga berhak hidup dan dihargai?

Rebel kembali ke rumahnya dan menyesali langkahnya. Dia tak mengira orang tuanya begitu kukuh menolaknya. Hatinya sakit tak terkira. Setelah dia merendahkan hatinya, merendahkan dirinya untuk pulang. Itukah balasannya?

Rebel kembali memasang jeruji besi dalam hatinya, tak mau lagi dia menjadi lemah, dia harus kuat, dan untuk itulah dia membentengi hatinya, agar hatinya tak terluka lagi.

Rebel menghadapi hidup dengan pahit, sepahit kenyataan yang harus dia terima. Sepak terjangnya tak kunjung padam, dia terus membangkang. Rebel bukankah memang pembangkang sejati? Jadi buat apa menjadi lemah hati?

Di akhir hidupnya, Rebel terbaring sakit di rumah sakit. Anak-anaknya ada di sampingnya, begitupun suaminya.
Papa dan mama Rebel telah lama pergi. Mereka tak sempat berdamai. Namun, di kala maut hampir mencabut nyawanya, dia melihat mereka berdua di sisi ranjang di rumah sakit itu. Kali ini mereka berbisik, mohon maaf pada Rebel. Setelah itu Rebel pergi dengan tenang untuk selamanya, dalam genggaman tangan suami dan anaknya.

Jiwa rebel melayang meninggalkan tubuhnya. Dia menyesali beberapa hal..Ah, kalau saja dia tak begitu emosi, kalau saja dia tak selalu menuruti dirinya dan dengan keras hati menolak saran orang tuanya.. Ah, kalau saja…
Yah, begitu banyak kalau dan kalau… Tanpa terjadi pada kenyataan.
Jiwanya semakin menjauh pergi… Penyesalan selalu datang terlambat…
Rebel ternyata tak terlalu puas dengan hidupnya, masih terselip beberapa penyesalan di sana…

Kalau saja waktu bisa diputar kembali, Rebel ingin menghadapi hidupnya dengan cara yang berbeda. Namun, semuanya sudah terlambat… Dia sudah pergi… Jauh dan takkan kembali…
Yang dia nikmati saat ini, perjalanan menuju sang Pencipta, menuju persatuan yang abadi dengan-Nya.

Singapore, 15 September 2009
-fon-
* Ada jiwa pemberontak (rebel)dalam diri setiap kita… Mudah-mudahan kita bisa menanggulanginya dan mengendalikannya…

gambar diambil dari : http://1.bp.blogspot.com/_hf0htVTq_Dg/SPqPTqOyVwI/AAAAAAAAAFA/AEZki0QH3Gk/s400/Rebel-Lecrae.jpg

1 comment:

  1. Aku jg seorang pemberontak....dan aku tdk pernah menyesali jalan yg sudah kupilih...lengkap dgn segala resikonya. Yang kutahu, aku tidak pernah merasa berjalan "sendiri". Kepada-Nya...aku percaya...bahwa semua akan baik2 saja.

    ReplyDelete