Saturday, April 24, 2010

Thank God I Found You Part 3


*** Episode: Susi ‘Strikes Back’

Previously on Thank God I Found You 2 (Episode: Willem)…

Willem masih menunggu Vita untuk memberi penjelasan mengapa ia melamar Vita. Papanya terkena kanker otak dan divonis dokter hanya bisa hidup dua tahun lagi. Dia ingin menyenangkan Papanya, sekaligus menyatakan cintanya yang tak pernah berubah pada Vita. Tidak berakhir dengan baik, karena Willem memaksakan kehendaknya ketika Vita menolaknya. Terjadi pertengkaran antara Willem dan Vino, adik Vita. Willem pergi dengan terpaksa, tetapi mengancam akan kembali lagi.

Sementara Mama Jason masuk RS lagi akibat ulah Susi. Ketika Vita ke sana, Susi berlagak mesra dengan Jason. Bagaimana kelanjutan ceritanya? Simak yang berikut ini…


Episode: Susi ‘Strikes Back’


Susi pelan-pelan berjalan menuju mobilnya. Mobil sedan warna hitam, keluaran tahun 2008 itu memang setia menemaninya ke mana pun ia pergi. Dibukanya pintu mobilnya, dia duduk di kursi pengemudi dan mengunci pintu mobil. Diambilnya beberapa lembar tissue basah, persis yang dipakai bayi-bayi dan balita. Disekanya tangannya berulang-ulang, takut tidak bersih. Begitu pula setirnya, dilap berkali-kali dengan tissue basah. Setelah selesai dengan ritualnya dengan tissue basah, dia mengambil ‘hand sanitizer’ yang terletak di samping tempat duduknya. Dipakainya lagi ‘hand sanitizer’ itu untuk membersihkan tangannya yang sudah bersih. Susi memang penggila kebersihan. Mungkin terkena penyakit kejiwaan ringan, sehingga dia sangat paranoid kalau habis keluar rumah. Maunya bersih-bersih terus.

Dipandanginya wajahnya lewat kaca spion. Cantik. Bahkan teramat cantik. Tidak kalah dengan model-model kondang kenamaan Indonesia. Tingginya saja yang kurang kalau ingin jadi model ‘catwalk’. Yang pasti, dia amat cocok untuk jadi cover majalah atau rubrik kecantikan. Itu yang sering dia lakukan. Rambut panjang sepinggang mengurai indah. Diwarnai kecokelatan dan bergelombang. Alis yang sempurna, hidung yang mancung, kulit putih, bibir merekah. Susi memang idola para pria dan jadi bahan kecemburuan para wanita. Dari kecil, dia sudah terbiasa jadi pusat perhatian karena memang dirinya amat cantik. Luar biasa cantiknya!

Perlahan, dia mulai menggerakkan mobilnya. Melintasi jalan-jalan di Jakarta di waktu malam. Berteman langit dan sedikit bintang, dia melintasi jalan menuju rumahnya di Pantai Indah Kapuk. Pluit.

Susi memang dari keluarga kaya. Sehingga dia tak pernah tahu apa rasanya susah, dia pun tak mengerti bagaimana rasanya tak mendapatkan apa yang diinginkannya. Sampai dia merasakan jatuh cinta kepada Jason, bertunangan, dan diputus Jason karena ketahuan belangnya.

Diparkirnya mobilnya perlahan. Pembantu rumah belum tidur, harus menunggu dia pulang. Lagian pembantunya ada tiga, salah satu menunggu ‘kan tidak masalah. Perlahan dia turun, masuk ke rumah yang megah namun terkesan dingin itu.

“ Dari mana, Sus, koq baru pulang?” Suara seorang wanita menegurnya.

Susi melengos, bicara seadanya seolah malas menjawabnya:

“ Dari rumah teman, udah ah aku tidur dulu, Ma!”

Dia masuk ke kamarnya. Di ujung rumah itu, di lantai satu. Kamar yang luas, rumah mewah, mobil mewah, semua megah. Hidup enak. Tapi dia tidak bahagia, karena sejak kecil dia sudah ditinggal Mamanya. Mama yang tadi menegurnya adalah ibu tirinya, dulunya sekretaris Papa di kantornya. Jadi, mana mungkin dia bisa normal dan wajar dalam bereaksi terhadap ibu tirinya itu. Biarpun Mama tirinya itu sebetulnya tidak jahat. Dia juga yang membesarkan Susi sampai hari ini, dan Susi tahu diri! Tapi, Susi juga tak suka padanya karena menganggap gara-gara dia sebetulnya Papanya selingkuh dan Mamanya meninggal karena stress. Susi tak punya bukti, namun Susi tahu karena Mamanya sering menangis dan cerita padanya, sepotong saja. Yah, hanya sepotong, namun membekas di hati Susi kecil yang berumur tiga belas tahun dulu.

Dia menangis dalam kamar. Tiap pulang, dia melihat lagi wajah duka Mamanya. Yang meninggal dalam kondisi sakit hati dikhianati Papanya. Susi memang tak tahu, apa perempuan selingkuhan Papa itu adalah Tante Reni, sekretaris Papa yang sekarang jadi Mama tirinya. Mereka tidak langsung menikah sepeninggal Mama, tetapi sama saja, ‘tokh’ empat tahun kemudian mereka meresmikan hubungan mereka juga. Tapi, ketika akhirnya Papa Reni dan memaksanya memanggil Tante tersebut dengan panggilan Mama, saat itulah kebencian yang memuncak tak bisa lagi lari dari hatinya. Dia terlanjur benci!

Susi masuk ke kamar mandi. Mengulang semua ritualnya setiap malam ketika dia pulang. Mandi. Pukul berapa pun dia harus mandi, tak peduli. Yang penting mandi air hangat, karena dia tak suka kotor. Dan selalu digantinya semua pakaiannya yang sudah keluar berjam-jam bersama dia.

Dipolesnya perlahan ‘night cream’ Perancis mahal ke wajah porselennya. Ketika diingatnya kesedihan berantai akibat ditinggal Mama dan hadirnya Mama tiri yang asalnya sekretaris Papa, dia amat frustrasi. Dan ketika itulah dia bertemu Jason. Di universitas yang sama dengannya. Jason kakak kelasnya, tiga tahun di atasnya. Dan Jason yang rajin itu suka memberi les akuntansi kepada adik-adik kelasnya. Termasuk Susi. Dari situlah dia kenal Jason dan diam-diam dia amat tertarik pada Jason. Memang Jason tidak terlalu ganteng, sehingga terkadang kurang sesuai juga bila bersanding dengan dirinya yang cantik seperti model itu. Tetapi, dia suka Jason yang tingginya 180 cm, berdada bidang, bermata elang, dan betul-betul cowok. Jason juga diperbincangkan di kalangan mahasiswi secara luas, karena bukan cuma macho, dia juga pintar. Akhirnya, mereka jadian juga. Susi bahagia karena impiannya jadi nyata. Bersama Jason.

Susi sendiri tak pernah kekurangan penggemar. Banyak pria suka padanya, menghadiahi macam-macam untuknya dan dia menikmatinya. Dari cincin, kalung, lipstick, parfum, sampai ada yang rela memberinya handphone atau ‘laptop’. Saking cintanya. Dan Susi yang kurang perhatian keluarga itu menikmatinya, menerima semuanya. Itu pulalah yang jadi alasan Jason memutuskan pertunangan mereka, karena Susi tak henti-hentinya mengulangi kesalahan yang sama. Pacaran dan tunangan sama Jason, tetapi kalau dikasih hadiah dengan tawaran makan malam, Susi pasti bersedia. Apalagi kalau makan malamnya di hotel berbintang lima yang betul-betul mewakili selera papan atasnya. Kualitas dirinya. Berkali-kali seperti itu, Jason tak tahan juga. Puncaknya adalah ketika Susi mau ‘dinner’ di kamar hotel berbintang lima bersama Andika. Dan dia ketahuan Jason sedang berada di kamar itu. Susi bersumpah bahwa dia tidak melakukan apa pun. Hanya makan malam. Yang Jason tidak bisa terima adalah makan malam di dalam kamar? Berdua saja? ‘Heaven knows’ deh apa yang terjadi sesudahnya. Jason memutuskan untuk putus dari Susi, memutuskan pertunangan mereka dan berjalan sendirian dalam hidupnya. Susi yang tak pernah tahu susah dan tak mengerti arti penolakan, malah semakin menggila mengejar-ngejar Jason. Tetapi, Jason sudah tak peduli, memutuskan pertalian kasih mereka dan Susi tersentak. Stress berat. Mengasingkan diri di Singapura untuk dua setengah tahun lamanya. Sampai ia berdiri tegar kembali untuk pulang. Di Singapura pun dia tak kekurangan fans. Banyak pria suka padanya. Tetapi, karena ditolak Jason, dia jadi memutuskan untuk kembali dan membalas dendamnya. Tak ada pria yang bisa menolaknya. Dan Jason, kamu juga harus menerimaku!

Singapura, setengah tahun yang lalu..

Susi meneguk gelas minum ketiganya. Dia hampir mabuk. Tetapi dipaksakannya juga untuk menyelesaikan minumnya. Suasana ‘Dempsey Hill’ malam ini tidak ramai seperti biasanya. Lokasi ‘Dempsey Hill’ yang terletak di seberang ‘Singapore Botanical Garden’ dan ‘Gleneagles Hospital’ dan sederet dengan British Council, memang cukup ideal. Tak jauh dari Orchard Road dan Tanglin Mall, Dempsey Hill menjadi tempat hiburan tersendiri yang merupakan kompleks berisi restoran dan tempat ‘hang out.’

Susi berada di Margarita’s, restoran sekaligus bar Meksiko yang ada di sana. Duduk di bar, berhadapan dengan ‘bar tender’ asal Filipina yang dari tadi terus mematung menatap dirinya. Memang pengunjung belum banyak malam ini, karena bukan ‘weekend’ namun Susi mangkal di sana karena itu tempat kesukaannya. Sambil mengunyah nachos, Susi meneguk minumannya- gelas ketiga.

“ I don’t know why my life is so sad? My love life, my romance… Aarrggghhh!” Susi bicara ngelantur sembari curhat karena dirinya memang stress berat dengan kehidupan cintanya.

Bar Tender yang diajak bicara menjawab, “ You’re so pretty, I don’t think it will be a problem to get a handsome and rich boyfriend.

“ I don’t need rich and handsome one, I need someone who loves me and I love him too!” Tiba-tiba suara Susi jadi penuh emosi… Setengah mabuk, terbayang wajah Jason. Masa-masa bersama Jason harus diakuinya adalah waktu-waktu yang paling membahagiakan dalam hidupnya. Sebelum dia ‘caught in the act’ – tertangkap basah bersama Andika di kamar hotel di kawasan Senayan itu. Salahnya sendiri, dia hanya bisa menelan ludah.

“ So, seek for the one you love, then! Why are you here and keep on waiting in uncertainty?” Kata-kata ‘bar tender’ itu membuka mata Susi. Iya, kalau bengong begini dan menyesali diri, kapan berubahnya hidup ini? Dia harus lakukan sesuatu! Dia harus pergi mencari Jason. Balik ke Jakarta dan mencari seluruh informasi diri Jason, dan memulai rencananya…Jason, aku takkan tinggal diam. Nantikan aku untuk mendapatkan dirimu kembali. Apa pun caranya, bagaimana pun jalan yang harus kutempuh. Aku harus kembali untuk menjadi istrimu!

Dibayarnya ‘bill’ minuman dan makanan ringannya malam itu. Diucapkannya terima kasih dan dia minta dipanggilkan taksi. 'Midnight rate' sudah mulai, taksi men-charge 50% ekstra dari harga yang ada di argo. Ketika taksi ‘Comfort Sonata’ itu tiba, Susi melambaikan tangan kepada ‘bar tender’, kepada Margarita’s, kepada Dempsey Hill dan kepada Singapura. Besok, dia putuskan untuk kembali --ke Jakarta!

Pantai Indah Kapuk, Rumahnya…

Setelah penerbangan yang nyaman bersama ‘Singapore Airlines’, Susi langsung dijemput Papa yang berbahagia karena anak tunggalnya akhirnya memutuskan untuk pulang. Setelah sekian lama tinggal di kawasan Zion Road, tak jauh dari Mal ‘Great World City’ yang juga merupakan kawasan elite, Susi akhirnya pulang. Yang Papa tidak tahu adalah, maksud kepulangan Susi…

Hmmm, tapi Papa tak perlu tahu, bukan?


Sejak itu dimulailah pencarian informasinya. Tempat tinggal Jason, kalau-kalau dia pindah rumah. Mama Jason dan kondisinya. Susi sampai menyewa detektif buat melacak seluruh informasi tentang Jason. Termasuk, siapakah yang dekat dengannya, perempuan mana yang jadi kekasihnya… Persiapannya harus matang, Susi tak bisa menerima penolakan lagi.

Kamarnya, saat ini..

Susi masih berpikir, langkah apa yang tepat buat mengacaukan hubungan Jason dan Vita yang tampaknya mulai merekah. Langkah terakhirnya, membuat pingsan Mama Jason dengan berita bohongnya, jelas membuat Jason tidak suka padanya. Kali ini, Susi berpikir cara lain…Tiba-tiba senyum tersungging di bibirnya, ide baru ditemukannya...

“ Vita, siap-siap kamu!”

Bersambung…

HCMC, April 25, 2010

-fon-


Sumber gambar:

http://images.buycostumes.com/mgen/merchandiser/36095.jpg

No comments:

Post a Comment