Tuesday, April 6, 2010

The Right Time, The Right Place



Pernahkah kau bertanya:
” Mengapa aku berada di
Jakarta (atau tempat di mana kamu tinggal sekarang) dan bukan di Amerika Serikat misalnya?”

Mengapa aku lahir di tahun 1970-an dan bukan lahir di tahun 1980 atau 1938 misalnya?

Mengapa? Oh … Mengapa?

Ketika Jakarta banjir atau macet atau polusi tingkat tinggi akibat asap kendaraan, mungkin engkau bertanya:

“ Mengapa aku harus tinggal di kota seperti ini, ya Tuhan? Mengapa temanku itu berkesempatan menikmati indahnya dunia dan tinggal di lain kota?” (Sebetulnya ini lebih kepada melihat rumput tetangga yang lebih subur, karena bukan berarti tinggal di negara lain tidak punya masalah.Masalah yang dihadapi tentunya berbeda. Polusi-macet-banjir, tidak ditemukan di Singapura, tetapi bukan berarti tinggal di Singapura bebas dari masalah, ‘kan?).

Anyway, pernahkah kita meyakini bahwa:

‘ This is the right time, this is the right place.’

Inilah saat yang paling tepat bagi kita untuk hidup di dunia, karena ini sudah menjadi waktu yang dipilihkan-Nya. Inilah tempat yang paling tepat menurut Dia untuk kita tinggali saat ini dan bukan tempat lainnya. Inilah rumah yang memang menjadi jatah kita saat ini. Mungkin bukan rumah gedongan bak sinetron yang punya kolam renang dan halaman luas, tetapi inilah yang diberikan-Nya kepada kita lewat usaha dan kerja keras kita. Dan bila kita perluas: inilah pasangan hidup yang tepat yang Tuhan berikan kepada kita. Kita bisa saja memilih orang lain dan punya pengalaman hidup yang berbeda, namun kita memutuskan untuk berpetualang bersamanya dan menghabiskan sisa usia bersama.

Inilah anak-anak yang dipercayakan Tuhan yang lahir dari perkawinan ini. Inilah orang tua yang terbaik yang dipercayakan-Nya bagi kita. Inilah mertua, menantu, cucu, saudara, kakak-adik, sepupu, teman sekantor, teman akrab, bahkan pembantu yang dikirimkan-Nya kepada kita. Tentunya dengan ketidaksempurnaan mereka sebagai manusia. Dengan keterbatasan mereka, karena kalau kita sadari: kita sendiri pun tidak sempurna. Adalah hal yang membuat frustrasi ketika kita mintakan standar yang begitu tinggi dari orang lain, sementara kita sendiri tak mampu mencapainya. Bukankah kesempurnaan itu hanya milik Tuhan?

Adalah mereka dan bukan orang lain. Adalah tempat ini dan bukan tempat lain. Adalah saat ini, bukan saat yang lain. Ketika kita berpikir bahwa inilah saat yang tepat, inilah waktu yang tepat, dan inilah orang-orang yang tepat yang dipercayakan-Nya kepada kita, maka kita akan dipenuhi cinta-Nya. Dengan menyadari bahwa kita dikelilingi berkat, dikelilingi berkah yang tak terhingga dari-Nya, kita akan mampu menapaki hidup dengan syukur.

Ah, terlalu sering kita mengeluh. Kalau saja…’What ifs…’

‘What if we learn to be more thankful today. By realizing that: this is the right time, this is the right place to experience His blessings as well as to be a blessing to others?’

Tuhan berkati. Selamat beraktivitas:)

HCMC, 7 April 2010

-fon-


Sumber gambar:
http://farm3.static.flickr.com/2291/2279681880_ea8ff53def.jpg

4 comments:

  1. enteng dibaca dan yang penting mengena

    ReplyDelete
  2. @ Agustinus: trima kasih sudah mampir di blog saya dan komentar:)

    ReplyDelete
  3. bagus fon,jujur aja seringkali aku juga sering berandai-andai dlm hdpku...dan tulisanmu ini menyadarkan aku bahwa seharusnya kita harus syukuri apapun yg sdh kita dptkan didunia ini...GBU.

    ReplyDelete
  4. @ Bing: trima kasih, Bing. Siapa pun aku rasa pernah berandai-andai dalam hidupnya. yang penting seberapa cepat kita kembali mensyukuri apa yang kita miliki dan merupakan anugerah-Nya. Bukan melulu menyesali yang tidak kita miliki. GBU too:)

    ReplyDelete